Madiun

Mengenang Kelahiran Maestro Hymne Guru

MADIUN – ‘’Sebentar mbak, saya tak selesaikan masak dulu,’’ kata Ignatia Damijati sembari membukakan pintu rumah mendiang Sartono, Rabu (29/5). Di hari kelahiran pencipta lagu hymne guru kemarin, Jawa Pos Radar Madiun sengaja menyambangi.

Rumah berdinding kayu bercat hijau itu masih terpasangi baner dijual. Perlengkapan pentas ketoprak Krida Taruna binaan Damijati berserakan di ruang tamu. Tak jauh dari seperangkat gamelan di sudut ruang itu. Sejumlah foto baru menghiasi dinding. Salah satunya ketika Damijati ketika diundang mantan panglima TNI Djoko Suyanto, usai menghadiri undangan salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta. ‘’Kepada Pak Djoko saya sampaikan siap kalau diundang tanggapan,’’ tuturnya.

Sepeninggal sang maestro 1 November 2015, Damijati hidup seorang diri. Februari lalu, keluarga legenda ini sempat dihebohkan kabar rumah warisan yang hendak dijual. Kabar itu memantik keprihatinan banyak pihak mulai komunitas sosial hingga pesohor yang akhirnya memberikan santunan hingga ratusan juta. ‘’Uangnya saya simpan di Bank Jatim,’’ terangnya.

Sebagian dari santunan itu juga dimanfaatkan memperbaiki makam almarhum Sarton. Menambal bagian luar rumah yang bocor dan menambah tempat duduk di teras depan. ‘’Teman-teman ketoprak kalau ngumpul sering nggak dapat tempat duduk. Nanti hari jadi Kota Madiun kami akan tampil, datang ya,’’ tuturnya.

Di hari istimewa kemarin, Damijati pun berucap doa untuk mendiang suami tercinta. Semasa hidup Sartono pun, Damijati tak pernah terlewat berkirim ucapan selamat. Tidak ada perayaan khusus, semua dihaturkan dalam keheningan doa. ‘’Setiap hari saya doakan semoga bapak mendapatkan tempat terbaik di sisi Yang Maha Kuasa,’’ tukasnya.

Damijati sangat terkesan dengan luhur kepribadian suaminya. Kebesaran nama tak lantas menjadikannya jumawa. Sartono tetaplah pribadi yang sederhana dan hidup apa adanya. ‘’Bapak itu orangnya neriman. Pernah pulang undangan mengajar musik tak membawa uang sepeser pun. Tapi dia tak mempersoalkan. Sampai saya bilang ke penyelenggaranya, kalau enggak dapat uang mau makan apa,’’ tukasnya.

Damijati pun mengenang kembali masa ketika ciptaan lagu suaminya mulai diapresiasi. Saat itu, Damijati-lah yang meminta suaminya untuk mengantarkan sendiri lirik lagu ciptaannya ke Jakarta. ‘’Kalau tidak diantar sendiri, khawatir kertasnya diuyel-uyel orang yang enggak senang. Untuk berangkat ke Jakarta, bapak sampai jual jas dan celana,’’ kenangnya.

Dari 200-an pendaftar, lagu ciptaan Sartono keluar sebagai pemenang di Hari Pendidikan Nasional, 1980 silam. Sampai kini, Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu dinyanyikan di seluruh penjuru Indonesia. ‘’Terakhir diambil tiga orang, satunya punya percetakan satunya lagi punya perkebunan kopi cengkih di Manado. Pak Sartono nggak punya apa-apa. Dia manut, katanya lagunya bisa menang asal boleh diubah,’’ katanya sambil sembari menunjuk meja kayu jati yang dulu digunakan Sartono menuliskan lirik-lirik lagu sepanjang masa tersebut. (dil/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button