Ngawi

Mengenal Wira Prasetyo Catur, Pelatih Jujitsu Bertangan Dingin

Kelam Masa Lalu Cambuk Menuju Kehidupan Baru

Dari hidup di jalanan, laki-laki ini berhasil mencetak puluhan atlet nasional. Dunia bela diri jadi sarana perjuangannya untuk memberi asa bagi anak yang kurang beruntung. Sosoknya sebagai pelatih andal tak diragukan lagi.

=====================

DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

KEDUA tangan disilangkan di dada. Wira Prasetyo Catur berdiri di pinggir ring. Ekspresi wajahnya cemas. Matanya terus menatap gerak-gerik lawan. Sesekali dia meneriaki anak didiknya agar tetap fokus memperhatikan gerakan rivalnya. ‘’Fokus itu faktor penentu kemenangan,’’ kata laki-laki 38 tahun itu.

Masa lalu Kang Wira, sapaan akrabnya, boleh dibilang kelam. Jadi petarung jalanan hingga akrab dengan meja judi membuatnya kenyang asam garam kehidupan. Masa lalu itu jadi cambuk penyemangat untuk berprestasi dan berguna bagi sesama. ‘’Jalanan jadi saksi bisu betapa kelamnya kehidupan tanpa impian dan masa depan,’’ kenangnya.

Itu juga alasannya tetap tegak berdiri menjalani kehidupan saat ini. Meski tanpa gaji dan status yang jelas, dia puas. Kang Wira dapat mencukupi kebutuhan keluarga, pendidikan anak-anaknya, dan mendirikan sarana pelatihan yang memadai.

Pada usia 24 tahun, Kang Wira mulai mengenal beladiri jujitsu. Sekaligus jadi awal perubahan hidupnya. Cahaya kehidupan yang sempat meredup kembali bersinar. Melalui bela diri ini jati diri ditemukan. Bangga dan kembali percaya diri setelah menuai prestasi. Hingga menemukan jalan menuju ilmu kepelatihan. ‘’Saya berniat membentuk pembinaan prestasi,’’ ujarnya.

Berangkat dari keprihatinan, jiwa laki laki asal Mulyorejo, Karang Tengah, Ngawi, itu memberi perhatian lebih kepada anak-anak yang kurang beruntung. Memberi asa kembali tentang masa depan jadi kepuasan tersendiri baginya. Layaknya dulu dia menemukan jati dirinya. ‘’Semua anak punya kesempatan dan hak yang sama,’’ tuturnya.

Mendirikan tempat latihan tak semudah yang dilihat orang saat ini. Hanya tidur beralaskan matras. Ngontrak di sebuah rumah yang juga jadi mes ala kadarnya. Itu bukan halangan Kang Wira untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya. ‘’Saya membina anak dengan prinsip hati ikhlas tumbuh berkembang jadi kebanggaan,’’ ucapnya.

Meski telah mengantongi lisensi kepelatihan nasional tidak membuat Kang Wira berhenti belajar. Berbagai bela diri dipelajarinya plus lisensi kepelatihan. Mulai jujitsu, muay thai, kick boxing, hingga sambo.

Ada yang lebih membanggakan dari prestasi dan lisensi. Yakni, menjadikan anak didik jadi pelatih serta dapat membuat muridnya berprestasi. Seperti Septian Novel Firgiawan yang sudah mencetak beberapa atlet berprestasi. ‘’Bahkan dia saat ini sedang berada di Thailand selama dua bulan untuk mendampingi atletnya berlatih di sana,’’ ungkapnya.

Prestasi bukan jadi tujuan utama membina anak didik. Melainkan pendidikan dan karir. Beberapa atletnya bisa mengenyam pendidikan tinggi melalui jalur beasiswa. Bekerja sama dengan perusahaan Widodo Putra Ngawi mengantar anak didiknya tembus UGM, ITS, Unesa, dan beberapa perguruan tinggi negeri lain. ‘’Prestasi hanya penunjang untuk mendapatkan pendidikan gratis,’’ imbuh Kang Wira.

Yang tersulit bagi pelatih yang sudah menginjakkan kaki di Thailand dan mendampingi atlet di SEA Games ini, bukan mencetak atlet. Melainkan melihat potensi dan bakat atlet sesuai jenis bela diri. Triknya, salah satunya melihat struktur anatomi tubuh. ‘’Dari situ dapat terlihat ke arah bela diri apa yang cocok dan sesuai karakternya,’’ pungkasnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close