Pacitan

Mengenal Rani Iswinedar, Pemilik Sanggar Pradnya

Atmosfer yang kurang mendukung sempat membuatnya berniat angkat kaki dari Pacitan. Namun, alur cerita berubah setelah menyelami lantas mengadaptasi kisah Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji menjadi sebuah seni tari.

==================

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

DUA buah cermin ukuran besar terbentang di dinding ruang latihan Sanggar Pradnya. Di sisi dinding yang lain terdapat sebuah etalase kaca sarat perlengkapan tari. Mulai kostum beraneka warna, topeng, dan panah. Di ujung ruangan, si empunya sanggar sedang berkemas dengan tas kecil. ‘’Siap-siap mau nglatih di SMKN 1 Pacitan nanti siang,’’ kata Rani Iswinedar.

Keseharian Rani tak jauh-jauh dari menari. Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu dipercaya sejumlah instansi untuk menularkan ilmunya. Di STKIP PGRI Pacitan dia jadi pengampu program studi (prodi) seni tari di jurusan PGSD dengan sistem kontrak kerja sama.

Rani juga disibukkan dengan jadwal kelas tari di beberapa sekolah. ‘’Kalau di sekolah-sekolah biasanya dipanggil menjelang ada perlombaan atau momen tertentu,’’ ujar warga Dusun Barang, Arjowinangun, Pacitan, itu.

Nama Rani sudah tak asing lagi di Kota 1.001 Gua. Kiprahnya di dunia tari tak bisa dipandang sebelah mata. Dia penah mengantarkan perwakilan Pacitan menjuarai Duta Seni Pelajar 2017 di Surabaya. Pun melenggang ke tingkat nasional mewakili Jatim pada 2018 di Jogja. Kala itu, Rani dipercaya sebagai penggarap sekaligus pelatih koreografi drama tari Sekartaji Sekartaji. ‘’Sekali perform, drama tari Sekartaji Sekartaji dimainkan 10 penari dan diiringi 15 pemusik,’’ terangnya.

Namun, yang paling membuatnya bungah adalah keberhasilannya merintis Sanggar Pradnya. Seminggu empat kali dia melatih 50 murid bersama lima murid senior sebagai asistennya. Setahun dua kali digelar pementasan kelulusan. Eksistensi sanggarnya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi perempuan 32 tahun kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, ini. ‘’Pertama kali merintis sanggar 2013 lalu,’’ tutur Rani.

Jalan terjal dilalui Rani sebelum mendapatkan posisi seperti sekarang. Mula-mula, dia membuka kelas tari gratis. Muridnya hanya keponakan dan kerabat yang masih belia. Dalam pikiran Rani waktu itu adalah cara menularkan ilmu tari yang telah dipelajarinya. ‘’Dulu ceritanya ikut suami. Sulit juga awal-awal berkesenian di Pacitan,’’ ungkap istri Pandu Sadeka tersebut.

Atmosfer yang jauh berbeda ketimbang kota tempatnya menuntut ilmu, membuat Rani nyaris patah arang. Tak jarang cibiran terkait cikal bakal Sanggar Pradnya-nya. Aktivitas seni Rani kerap dibenturkan dengan religi. Itu dialami sekitar dua tahun. ‘’Rasanya sampai ingin kembali ke Solo atau Jogja. Bukan apa-apa, di dua daerah itu seni budaya lebih mendapat perhatian,’’ ucapnya.

Niat angkat kaki dari Pacitan diurungkan setelah berdiskusi dengan suami. Dia lantas mengulik ciri khas dunia Pacitan. Jaringan dengan seniman maupun budayawan lokal diperluas. Akhirnya, Rani menyelam lebih dalam tentang kisah wayang beber Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji. ‘’Beberapa kali membuat kolaborasi dengan seniman tari lain. Materi intinya kisah Panji dan Sekartaji,’’ jelasnya.

Rani menemukan semangatnya kembali. Power kisah Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji dimanfaatkan betul. Tak hanya drama tari Sekartaji Sekartaji, karya-karya lain juga berhasil digarap. Seperti Sekartaji Murco dan Panji Mbarang Jantur. Dengan adaptasi dan niat mengangkat ciri khas Pacitan seperti itu, beberapa seniman dari Makassar, Bandung, dan Banyumas kerap berkunjung ke sanggarnya. ‘’Pacitan itu punya cerita Panji dan Sekartaji yang sudah mendunia, punya warisan wayang beber asli. Tapi, pergelaran seni tentang Panji dan Sekartaji ada di daerah lain,’’ heran Rani.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close