Uncategorized

Mendem Gadung, Slamet Tidak Selamat

PACITAN – Slamet tidak selamat. Kakek 80 tahun, warga Dusun Singjil, Gasang, Tulakan, Pacitan, itu meregang nyawa diduga lantaran mendem (mabuk) gadung. ‘’Malam sebelum meninggal korban menyantap gembili dan gadung. Diduga, korban keracunan gadung,’’ kata Kapolsek Tulakan AKP Waluyo, Selasa (14/8).

Peristiwa tragis itu berawal Jumat malam lalu (10/8). Kala itu Slamet membawa pulang gembili dan gadung. Dua hari berselang, Minggu (12/8), anak korban Sumarno mengupas gembili dan gadung tersebut. Laki-laki 60 tahun yang menderita katarak itu mengira yang dikupas gembili semua.

Selanjutnya kedua jenis pala pendem itu dipotong kecil-kecil hingga tercampur. Istri korban Sitin lantas mencuci dan merebusnya. Nenek 75 tahun ini pun tak menyadari umbi-umbian yang dikupas anaknya campuran gembili dan gadung. ‘’Setelah masak, mereka bertiga pun menyantapnya,’’ tutur Waluyo.

Santap malam sekeluarga itu berlagsung sekitar pukul 19.00. Slamet makan empat potong, Sitin sepotong, dan Sumarno tiga potong. Beberapa saat kemudian ketiganya mual dan muntah. Sitin pun meminta pertolongan tetangga. Kondisi Slamet kala itu kritis. ‘’Tetangga sempat memberi air kelapa untuk pertolongan pertama. Tapi, nyawa korban tak tertolong,’’ ungkap kapolsek.

Petugas Polsek Tulakan pun langsung mendatangi rumah korban setelah menerima laporan dari warga. Polisi bersama petugas Puskesmas Bubakan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Juga mengambil sampel muntahan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan untuk diteliti. ‘’Jenazah Slamet dibawa ke puskesmas untuk divisum dan telah dikembalikan kepada keluarganya untuk dimakamkan,’’ jelasnya.

Sementara Sitin dan Sumarno harus menjalani rawat inap di RSUD dr Darsono Pacitan. Kepala Ruang Melati RSUD Pacitan Sunaryon membenarkan telah menangani dua pasien yang keracunan gadung tersebut. Namun, kondisinya sudah membaik dan boleh pulang Selasa siang (14/8) kemarin.

Dia menyebut korban kurang hati-hati dalam mengolah gadung. Pasalnya, jika tak diolah dengan benar, umbi-umbian itu dapat meracuni tubuh tanpa memandang usia. ‘’Kami beri obat sesuai SOP untuk menetralkan racun, dan kumbah lambung, pasang infus, dan injeksi,’’ jelas Sunaryon.

Dia menambahkan, saat pertama masuk RSUD kondisi korban lemas dan pening. Berdasarkan diagnosis, penyebab keracunan itu adalah gadung. Sementara itu, saat ditemui di RSUD, baik pasien maupun keluarganya enggan memberikan keterangan kemarin. (mg6/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button