Bupati Menulis

Mendekatkan Akses Pendidikan

ADA seorang ahli berkata: Orang bodoh itu akan tetap miskin. Dan, orang miskin akan tetap bodoh. Betapa menderitanya menjadi orang miskin. Karena menghasilkan generasi penerus yang bodoh dan akan tetap miskin.

Saya teringat Dahlan Iskan dalam bukunya Ganti Hati halaman 74–75. Tulisannya sebagai berikut.

“Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya?
“Karena liver, saya tidak kebal ketika virus pertama kalinya datang dan masuk dalam liver saya.”
“Kenapa badan saya tidak kebal?”
“Karena badan saya tidak pernah menjalani vaksinasi hati hepatitis B saat saya masih bayi/kecil.”
“Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi?”
“Karena tidak tahu.”
“Kenapa tidak tahu?”
“Karena tidak berpendidikan.”
“Kenapa tidak berpendidikan?”
“Karena miskin!!”

Dahlan Iskan saksi hidup betapa menderitanya menjadi orang miskin. Untuk memutus rantai kemiskinan dan lingkaran setan tersebut, pendidikan menjadi salah satu caranya. Saya percaya betul pernyataan itu. Banyak contohnya. Mungkin dari pembaca sendiri. Bagaimana seandainya dulu tidak memperoleh pendidikan?

Sebab, pendidikan tinggi bisa mengubah hidup. Kalau dulu orang tuanya miskin, namun anaknya tidak miskin saat membiayai kuliah anak-anaknya. Artinya, orang tua mahasiswa sekarang rata-rata mampu.

Zaman saya kuliah dulu, rata-rata orang tua mahasiswa miskin. Salah satu indikatornya, saya kuliah sampai lulus dengan naik sepeda. Dan itu biasa. Satu fakultas yang terdiri enam jurusan, mahasiswa yang naik sepeda motor bisa dihitung jari tangan. Parkir belakang fakultas dipenuhi sepeda, bukan sepeda motor.

Mahasiswa yang naik mobil tidak ada. Bahkan, hanya dua dosen yang mengemudikannya. Yakni, mantan atase pendidikan di Rusia. Lalu, dosen merangkap pengusaha. Dekan saja pakai mobil dinas sejenis minibus yang sangat sederhana. Sedangkan, ketua jurusan naik sepeda motor. Sehingga, tempat parkir mobil depan fakultas sangat lapang.

Kondisi yang saya ceritakan itu terjadi pada 1970-an. Tentu sangat berbeda dengan saat ini. Sangat sulit menemukan sepeda parkir di fakultas perguruan tinggi. Saya hampir tidak pernah menjumpainya. Naik sepeda saat ini tidak lebih dari gaya hidup.

Betapa beruntungnya menjadi anak dari orang tua mampu. Apalagi hidup di kota. Penuh dengan fasilitas. Mulai olahraga, kesehatan, hingga perguruan tinggi yang bagus. Bagi orang miskin yang tinggal di kota, perlu kemauan keras hingga beasiswa untuk membuka akses pendidikan.

Bagaimana dengan yang di daerah? Sungguh kurang beruntung. Di Jawa Timur saja ada perbedaan. Jatim bagian timur lebih beruntung dalam hal akses pendidikan tinggi. Misalnya, ada Universitas Negeri Jember yang program studinya cukup lengkap. Di Banyuwangi telah lama berdiri Universitas Airlangga dan Politeknik Negeri.

Kondisi berbeda di Jatim bagian barat (eks Karesidenan Kediri dan Madiun). Daerah tersebut tidak punya perguruan tinggi negeri. Politeknik Negeri Madiun boleh dibilang masih baru. Wajar bila masyarakat Mataraman yang ingin pendidikannya lebih baik harus pergi ke luar daerah.

Kuliah di luar daerah bukan sebuah masalah bagi orang tua yang mampu. Bagi yang kurang mampu atau miskin, tentu hanya mimpi. Bahkan sekadar mimpi pun dilarang. Karena tidak mungkin dapat menjangkaunya.

Berangkat dari persoalan tersebut, saya berusaha keras mencari cara agar perguruan tinggi dapat berdiri di Magetan. Mulai menghubungi berbagai perguruan tinggi hingga pejabat pengambil keputusan di Jakarta. Juga, sekolah kedinasan di luar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun, ketatnya regulasi membuat upaya itu sulit terealisasi. Kalaupun bisa, perlu ekstratenaga dan kemauan untuk memenuhi persyaratan yang banyak dan rumit.

Namun, saya tidak menyerah. Dari beberapa kali bertemu dengan para pengambil keputusan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), keseriusan memorandum of understanding (MoU) yang dibuat bukan sekadar formalitas. Melainkan untuk ditindaklanjuti. Kerja sama untuk pendidikan pascasarjana bagi guru yang ingin melanjutkan pendidikan telah berjalan.

Tahun ini dibuka tiga program studi: S-1 PGSD, olahraga, dan MIPA. Perkuliahan sementara menumpang di SMA PGRI Maospati. Masterplan lima tahun ke depan telah dibuat. Ada 16 prodi yang disiapkan.

Saya berharap, dan semoga juga masyarakat wilayah Mataraman, menghendaki pendidikan semakin dekat dan mudah diakses. Bukankah pendidikan merupakan hak setiap warga negara? Bukankah pendidikan salah satu sarana ampuh memotong rantai kemiskinan? Dan kewajiban kita untuk merealisasikannya. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button