Ngawi

Menahun Sardi Jadi Tukang Perahu

Bengawan Solo ibarat sudah menjadi rumah kedua bagi Sardi. Lebih dari 10 tahun dia bertaruh nyawa menawarkan jasa penyeberangan. Surut maupun naik, air sungai tetap dibelahnya dengan perahu sederhana.

—————-

COKELAT lumpur aliran Bengawan Solo di Desa Ngompro, Kecamatan Pangkur, kian jelas lantaran siang kelewat terik. Air sungai yang memisahkan dua dusun -Pilang dan Ngompro- itu lumayan tinggi dan deras arusnya. Kendati begitu, masih ada aktivitas penyeberangan di sana.

Tiga pengendara motor dan seorang lagi dengan onthel-rombong menunggu di tepian sungai masuk Dusun Pilang. ‘’Enak lewat sini daripada harus muter jauh,’’ kata seorang pengendara motor yang baru datang sembari membunyikan klakson beberapa kali.

Di seberang, Sardi mengangkat tangan sambil berteriak, menanggapi bunyi klakson. Dia lantas membenarkan posisi perahu. Perlahan, perahu mendekat dibarengi suara mesin diesel yang semula kalah dengan kecipak arus sungai.

Kedua lengan pria itu tampak luwes memainkan galah untuk menepikan perahu. Diesel dimatikan, dia berganti meraih seutas tali, lantas mengaitkannya ke sebuah patok kayu. Badan perahu pun menempel ke dermaga bambu ukuran 2×2 meter.

Sejurus kemudian, calon-calon penumpang bergantian naik. Mereka bergiliran menuruni jalan licin tak cukup lebar. Kali pertama, pria bercaping menuntun onthel-rombongnya, menempati ujung perahu. Beberapa waktu berselang, tiga motor sekaligus pengendaranya sudah berada di lantai sampan berbahan anyaman bambu itu.

Lantaran penuh sesak, Sardi mendorong sedikit perahunya untuk memberikan tempat naik pengendara motor yang terakhir. ‘’Sudah biasa seperti ini,’’ kata Sardi sembari sibuk melepas ikatan tali perahu, lantas menyalakan diesel kembali.

Perahu sepanjang kurang lebih 15 meter itu perlahan mengarungi sungai. Air sungai yang cokelat dan berarus deras itu seperti terbelah pelan-pelan. Riak air di bawah sampan berangsur menghilang sesaat setelah perahu berlabuh di dermaga seberang.

Satu per satu penumpung turun sembari memberikan upah kepada Sardi. ‘’Rp 2 ribu sekali nyebrang. Kalau pas banjir kadang dikasih lebih upahnya. Anak sekolah, guru, pegawai, sampai tukang jamu, sering nyebrang di sini,’’ ujar Sardi.

Sudah 10 tahun lebih Sardi mengais rezeki sebagai tukang perahu. Tatanan bambu di tepian sungai menjadi tempatnya meletakkan badan saat menunggu penumpang. Terkadang dia mesti berganti lokasi lantaran bangku sederhana itu tertutup air sungai yang naik. ‘’Ini sudah agak surut, kemarin air sudah sampai situ,’’ ucapnya sambil menunjuk rumpun bambu sekitar lima meter dari dermaga.

Sardi biasanya menolak penumpang saat sungai dipenuhi larahan. Berbagai sampah yang ikut terbawa arus membuatnya kesulitan mengendalikan perahunya. Kalau sudah begitu, dia mencari isi kantong dengan bekerja serabutan. ‘’Ada dua orang penyeberang di sini, saya dan seorang lagi. Gantian, pagi dan sore,’’ ungkap ayah satu anak ini.

Pria 40 itu sejatinya paham dengan risiko menyeberang saat air meninggi dan arus menjadi semakin kencang. Namun, sejauh ini dia belum berpikir mencari pekerjaan lain. Tuntutan ekonomi membuatnya rela berpanas-panas menyeberangkan warga dengan perahunya. ‘’Sehari bisa sampai 15 kali PP (pergi-pulang, Red),’’ tuturnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button