features

Menahun Rita Ikasari Tekuni Kerajinan Rajut

Kerajinan rajut tidak pernah kehilangan penggemar. Pun, pesanan barang rajutan ke Rita Ikasari hingga kini tetap mengalir. Bahkan, perempuan itu pernah mendapat order dari Hongkong.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

TUMPUKAN benang rajut aneka warna menghiasi salah satu sudut ruang tamu rumah Rita Ikasari di Jalan Cokrobasonto, Kelurahan Josenan, Taman. Sementara, si empunya rumah sedang sibuk memainkan jarum hook dan benang. Tangannya seolah menari-nari merajut benang demi benang. ”Ini sedang menyelesaikan tas tempat makan. Baru selesai bagian alasnya,” ujarnya.

Sari –sapaan akrab Rita Ikasari- menekuni kerajinan rajut sejak 10 tahun silam. Pun, sejak kecil kerap melihat sang ibu membuat rajutan. Namun, baru setelah dewasa menyadari bahwa rajutan selain bernilai seni juga dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. ‘’Kemudian mulai belajar utak-atik sendiri. Kadang lihat tutorial di internet,’’ ungkapnya.

Kini, lewat tangan terampilnya, benang-benang rajut itu mampu disulapnya menjadi aneka kerajinan. Mulai tas, dompet, bros, bandana, ikat rambut, tatakan gelas, topi, hingga sarung botol. Sementara, pandemi korona menginspirasinya membuat konektor masker dan tempat hand sanitizer.

Meski begitu, hingga kini Sari masih terus belajar agar bisa menghasilkan karya yang nyaris sempurna. Apalagi, terkadang dia masih melakukan kesalahan hingga harus membongkar rajutan. ‘’Bahannya ada beberapa macam. Misalnya, benang nilon dan polipropilena,’’ sebutnya.

Bagi Sari, merajut tidak bisa dilakukan dengan buru-buru. Pembentukan pola saja mesti membutuhkan perhitungan cermat. Pun, butuh good mood saat merajut. ‘’Kalau sedang bad mood hasil rajutan pasti kurang bagus,’’ ucap perempuan 37 tahun itu.

Sari mematok produk rajutannya dengan harga variatif, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan. Sarung botol ukuran 500 mililiter dibanderol Rp 60 ribu. Sedangkan tas mulai Rp 60 ribu hingga Rp 500 ribu. ‘’Pesanan paling banyak tas,’’ ujarnya. ‘’Pemesan paling jauh dari Papua dan Hongkong ” imbuhnya.

Produk rajutan buatan Sari bisa awet bertahun-tahun asalkan perawatannya dilakukan dengan benar. Di antaranya, dicuci menggunakan sampo atau sabun cair. ‘’Menjemurnya cukup diangin-anginkan supaya warnanya tidak pudar,’’ kata istri Suprianto Emanuel Patty itu. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button