Ngawi

Memprihatinkan! Nakes di Ngawi Jalani Isoman Justru Diusir Warga

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Setahun lebih pandemi Covid-19 melanda, diskriminasi terhadap pasien Covid-19 masih terjadi. Aria Kusuma Aji, 25, salah seorang tenaga kesehatan (nakes) yang melakukan isolasi mandiri (isoman), mengaku diusir oleh sejumlah warga tempatnya tinggal di Desa Gandong, Bringin, Ngawi.

Alasan pengusiran lantaran perawat yang kesehariannya bertugas di public safety center (PSC) 119 itu dianggap bukan asli warga Gandong. Rumah yang digunakan isoman itu ditempati ibunya. Aria yang ber-KTP Desa Dero, Bringin, itu ikut menempatinya satu setengah tahun terakhir. ‘’Ada warga yang menolak karena saya tidak ber-KTP Gandong,’’ kata Aria dihubungi lewat sambungan telepon, Senin (12/7).

Aria dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 hasil tes polymerase chain reaction (PCR) Kamis (8/7). Drama pengusiran terjadi keesokan harinya (9/7). Pada pukul 15.58, seorang warga berinisial K meneleponnya. Pesan yang disampaikan adalah dirinya diminta tidak isoman di lingkungan tempat tinggalnya. ‘’K menghubungi saya sampai tiga kali disertai nada ancaman akan mengeluarkan paksa,’’ ujarnya.

Aria mengatakan, dirinya sempat bertanya lebih jauh alasan penolakan isoman di Gandong. Lawan bicaranya itu menyebut bahwa penolakan juga datang dari kepala desa (Kades) dan Satgas Covid-19 desa setempat.

Karena khawatir warga bertindak anarkistis, Aria lantas meminta bantuan keamanan ke koordinator PSC dan Puskesmas Bringin. Mobil ambulans datang mengevakuasinya pukul 17.00. ‘’Saya dirujuk ke Rumah Sakit Lapangan (RSL) Agro Techno Park (ATP), Ngrambe,’’ ungkapnya.

Dimintai konfirmasi, Kades Gandong Kuswanto mengaku tidak tahu-menahu ihwal peristiwa penolakan Aria oleh warganya. Namun, dia mendengar kabar drama tersebut dari salah satu media sosial (medsos) Jumat lalu. Aria sempat mengunggah video di medsos dan akhirnya viral. ‘’Saya sempat mencari kebenarannya dengan bertanya ke warga. Tapi, tidak ada satu pun yang mengakuinya,’’ ujarnya.

Kuswanto menyangkal bahwa dirinya dan Satgas Covid-19 desa menolak isoman Aria. Sekalipun dia bukan warga Gandong, pemerintah desa (pemdes) bakal mengakomodasi kebutuhan selama isoman. ‘’Sayangnya, tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu (ke pemdes atau Satgas Covid-19),’’ ucapnya.

Menurut dia, penolakan warga bentuk kewaspadaan terhadap orang baru. Namun, hal tersebut tetap tidak dibenarkan. Berkaca kejadian ini, pihaknya akan mengingatkan ketua rukun tetangga (RT) dan kepala dusun (Kasun) untuk mengedukasi warga. ‘’Kami sosialisasikan terus agar kejadian serupa tidak terulang,’’ pungkasnya. (mg5/c1/cor/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button