Bupati Menulis

Memakai Masker 24 Jam

ANGKA terkonfirmasi positif dan kematian pasien Covid-19 di Magetan terus naik. Keterisian tempat tidur rumah sakit 85 persen. Melebihi rata-rata Jawa Timur. Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro sebagai upaya menurunkan angka-angka tersebut.

Satgas Covid-19 melakukan evaluasi penanganan Covid-19 minimal dua pekan sekali. Khusus PPKM, bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Hasilnya, klaster keluarga menjadi salah satu penyebab peningkatan angka konfirmasi tersebut.

Penerapan protokol kesehatan (prokes) di lingkup keluarga diketahui sangat longgar. Sesama anggota keluarga harus mengenakan masker di rumah masih dianggap aneh.

Terhitung 22 Februari lalu, ada 186 pasien meninggal dan 1.945 sembuh dari total kumulatif 2.337 kasus. Tracing membuktikan bahwa penularan keluarga sangat dominan. Tidak mengherankan bila kasus positif Magetan di urutan 30 se-Jawa Timur, Desember tahun lalu. Saat ini di posisi ke-20. Kondisi ini tentu perlu perhatian bersama.

Langkah antisipasi telah banyak dilakukan. Ketika sejumlah daerah lain dinyatakan zona merah, Magetan mengikuti kebijakan daerah tersebut. Salah satu pertimbangannya karena penularan terjadi akibat mobilitas masyarakat. Pencegahan tidak bisa berdiri sendiri. Penularan bisa lebih ditekan dengan pembatasan serentak.

Beruntungnya, kebijakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa PPKM mikro diikuti seluruh kabupaten/kota. Di sisi lain, berdasar instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 2021, Magetan masuk kriteria pelaksana kebijakan itu. Yakni, angka kematian dan keterisian tempat tidur rumah sakit di atas rata-rata nasional.

PPKM memberi harapan positif menilik tren pelaksanaannya. Ada 54 pasien Covid-19 meninggal pada tahap pertama 12–26 Januari. Jumlahnya turun menjadi 41 orang di tahap kedua periode 27 Januari–8 Februari. Kemudian, saat PPKM mikro tahap pertama, turun lagi menjadi 34 orang selama 9–17 Februari.

Saat Covid-19 masuk 11 Maret 2020, kebanyakan pasien yang dirawat di rumah sakit bergejala sangat ringan. Tingkat kesembuhannya tinggi. Namun, seiring berjalannya waktu, para penderitanya bergejala sedang dan berat. Sehingga potensi kematian tinggi.

Kami lantas membangun ruang operasi bertekanan negatif atau khusus Covid-19 di RSUD dr Sayidiman. Seandainya belum memilikinya, pelayanan bisa terganggu. Sebab, tidak mungkin digunakan bergantian. Kalau terpaksa, ruangan harus disterilkan dan memakan waktu.

RSUD dr Sayidiman memiliki laboratorium polymerase chain reaction (PCR). Alat medis itu juga ada di laboratorium kesehatan daerah (labkesda) dan RSAU dr Efram Harsana. Keberadaannya bisa mempercepat diagnosis positif tidaknya seseorang. Sebab, hasil pemeriksaan swab bisa diketahui dalam waktu empat jam.

Hasil analisis kebutuhan, perlu penambahan tenaga kesehatan (nakes). Yaitu, dokter, perawat, bidan, dan analis kesehatan. Senin (22/2), saya menyaksikan penandatanganan kontrak relawan nakes untuk RSUD dr Sayidiman. Ada 30 perawat, masing-masing lima dokter dan bidan, serta tiga analisis medis.

Sarana RSUD dr Sayidiman juga dilengkapi. Misalnya, ruang perawatan dipasang kamera CCTV. Tujuannya agar dokter dan perawat bisa memantau kondisi pasien setiap saat. Sebab, interaksi langsung harus mengenakan alat pelindung diri (APD) level 3. Di sisi lain, semakin sedikitnya interaksi, maka kemungkinan tertular mengecil. Belakangan banyak nakes terpapar. Hasil tracing ternyata banyak yang terinfeksi karena berinteraksi dengan keluarga.

Dalam sebuah diskusi, anggota satgas mengusulkan pemakaian masker 24 jam. Pelaksanaannya mulai 21 Februari hingga 7 Maret. Gerakan itu jangan diartikan secara harfiah, melainkan dimaknai tidak boleh lengah. Baik saat bekerja, keluar rumah, maupun di tengah keluarga. Saat ini sudah ada klaster keluarga. Mari selalu memakai masker sebagai upaya pencegahan yang mudah dan murah. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button