Ponorogo

MC Dino Terus Belajar meski Sudah Tenar

Pantang Anggap Pekerjaan sebagai Sampingan

Model pesta pernikahan yang semakin berkembang menuntut pekerjanya beradaptasi dengan tuntutan zaman. Terutama bagi kalangan master of ceremony alias pembawa acara. Muhammad Muhyidin konsisten menapaki karir itu dengan mengombinasikan gaya modern dan tradisional.

==========================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SAMPAI H-2 sebuah pesta pernikahan di Sampang, Madura, Muhammad Muhyidin belum menerima penjelasan seputar rangkaian acara dari kliennya. Dia yang lantas berinisiatif datang lebih awal itu kaget mendapati belum ada wedding organizer (WO) yang mengorganisasi pesta. Padahal, kliennya meminta sebuah pesta yang memadukan adat Jawa, Madura, dan Sunda. ‘’Akhirnya, saat itu saya berperan sebagai WO,’’ kata Dino –sapaannya– mengenang hajatan 2016 silam.

Itu menjadi pengalaman pertama Dino setelah meniti karir sebagai pembawa acara pernikahan sejak 2012 silam. Ketika itu, Dino berinisiatif mengambil kemudi nakhoda acara. ‘’Menjadi pembawa acara itu harus berani menghadapi siapa pun. Harus tegas untuk cut dari satu sesi ke sesi lain,’’ ujarnya.

Sejak kuliah 2003 hingga 2007, dia pun sudah nyambi menjadi penyiar di salah satu radio lokal. Dino merupakan namanya di udara. ‘’Saat itu tertarik dengan langgam Jawa, karena sering memandu siaran campursari. Dari radio, lalu tertarik memandu pesta pernikahan dengan adat Jawa,’’ ceritanya.

Bekal pengalamannya berbekal prinsip amati, tiru, dan modifikasi (ATM). Dia belajar dari panggung ke panggung. Mengikuti teman-temannya yang menggarap pesta pernikahan. Tentu gratisan. Hanya datang dan melihat dari kejauhan, bagaimana sang pembawa acara memandu pesta. ‘’Baru dapat job tahun 2012. Tidak menyangka kalau sangunya lumayan. Akhirnya semakin bersemangat,’’ tutur bapak tiga anak itu.

Dino mencoba menerapkan prinsip salah seorang motivator terkemuka. Bahwa apa yang dilakukan jangan pernah dianggap sebagai sampingan. Ketekunan mengantarkannya semakin merambah banyak panggung. Hingga 2015, tawaran yang cukup berkesan dia terima. Seorang pejabat di Bali menyewa jasa Dino memandu pesta pernikahan putrinya. Konsepnya, mengombinasikan adat Jawa dan Bali. ‘’Walaupun sulit karena dua adat berbeda, tapi alhamdulillah bisa,’’ ucapnya.

Selama meniti karir pembawa acara pesta pernikahan, Dino tak pernah menyebut tarif. Kecuali, jika ditanyakan. Jika tidak, berapa pun diterima. Bahkan, 2014 lalu Dino sempat menerima sebuah amplop honor yang isinya hanya Rp 75 ribu. Ikhlas menjadi kunci sukses Dino. ‘’Karena saya diajarkan oleh senior, tidak boleh berharap,’’ kenangnya.

Kini, Dino dan kawan-kawannya membentuk paguyuban pembawa acara. Siapa pun bisa bergabung dan belajar seni berkomunikasi tersebut. ‘’Perkembangan industri hiburan dan acara, termasuk pesta pernikahan, itu pesat. Saya pun sampai sekarang terus belajar,’’ ujarnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close