Magetan

Mayoritas Tenaga Honorer Berusia di Atas 35 Tahun, Butuh Pengakuan Status dari Bupati

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Krisis guru yang dialami oleh beberapa sekolah belum tersolusikan. Pelaksanaan rekrutmen CPNS selama dua tahun terakhir sejak moratorium belum mampu menuntaskan masalah kebutuhan tenaga pendidik.

Kondisi itu kemudian dimanfaatkan oleh pihak sekolah untuk merekrut guru tidak tetap (GTT) dengan honor seadanya lewat bantuan operasional sekolah (BOS). ‘’Berangkat dari kebutuhan, kepala sekolah (kepsek) mencari guru,’’ kata Ketua Forum Honorer Non Kategori Dua (FHNK-2) Magetan Dony Virli Jumat (6/12).

Berdasarkan hasil pemetaan pegawai, setiap kecamatan paling tidak dalam setahun terdapat 25 guru PNS yang pensiun. Keadaan tersebut lantas membuat beberapa sekolah harus memutar otak. Supaya proses pembelajaran di kelas tidak terganggu karena kekurangan guru.

Peluang itu kemudian ditangkap oleh para fresh graduate berlatar belakang sarjana pendidikan. Mereka kemudian melamar pekerjaan menjadi guru di sekolah tertentu untuk menambah pengalaman. Sambil mereka menunggu rekrutmen CPNS dibuka. ‘’Ada yang mencari dan ada yang membutuhkan. Karena kepsek pasti bingung ketika ada yang pensiun, tapi tidak ada penerimaan,’’ terang Dony.

Meski begitu, Dony memastikan para GTT tersebut tidak menuntut honor tinggi. Sebaliknya, mereka menginginkan statusnya ditetapkan. Dengan harapan para GTT itu tidak tersingkir ketika ada rekrutmen CPNS. ‘’Kami hanya butuh pengakuan, kalau kami juga berkontribusi bagi dunia pendidikan,’’ tegasnya.

Dony menyebut, saat ini jumlah tenaga honorer di Magetan ada 1.589 orang. Jumlah itu belum termasuk guru relawan di desa-desa. ‘’Sebagian besar dari jumlah kami sudah berusia di atas 35 tahun, Mereka sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendaftar CPNS,’’ ungkapnya. (bel/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close