Matun Berjualan Dawet Murah Meriah Bertahun-tahun

Semangkuk Hanya Seribu, Tak Peduli Bahan Baku Mahal

Sulit mencari tandingan dawet Matun dari sisi harga. Sudah satu dasawarsa lebih semangkuk dawet itu dihargai Rp 1.000. Harga jajanan seragam Rp 500. Dia kasihan ke pembeli yang harus membayar mahal.

RONAA NISA, Jawa Pos Radar Ponorogo

LEBIH mahal mana? Segelas kecil teh manis atau semangkuk dawet. Tak ada bedanya bagi Matun, penjual dawet di tikungan ujung barat Jalan Jaksa Agung Suprapto, Ponorogo. Terhitung sejak 11 tahun lalu, harga dawet di warung seukuran 4×4 meter itu tidak beranjak dari nominal Rp 1.000. Harga gorengan pukul rata Rp 500. Toh, Matun tidak jatuh bangkrut. ‘’Saya sengaja tidak mengambil untung banyak,’’ kata perempuan 63 tahun itu.

Matun tidak latah menaikkan harga dawet atau jajanan di warungnya kendati harga bahan baku naik. Dia selalu memerinci harga gula, kelapa, dan ketan hitam. Yang perlu diperhatikan betul berapa tepung tapioka sekarung harus ditebus dengan uang. Tepung jenis itu menjadi bahan utama cendol. Ketika itung-itungan dirasa masih aman, dawet semangkuk jualan Matun tetap seceng. ‘’Cari duit susah, kerjaan juga sulit. Kasihan kalau hanya minum dawet harus bayar mahal,’’ ucap warga Desa Demangan, Siman, Ponorogo, itu dengan entengnya.

Dia tegas menyebut bahwa dawetnya bukan khas Jabung. Nama sebuah desa di Kecamatan Siman. Dawet Matun adalah dawet Tamanarum, nama kelurahan lokasi warungnya berdiri. Pernah memakai nama dagang Sinar Harapan, namun belakangan dirasa kurang pas. ‘’Sekarang pakai nama saya ditambahi legendaris,’’ ungkapnya.

Matun layak mendapat sebutan legenda dawet. Dia sudah berjualan cendol berkuah santan dengan campuran sedikit tape ketan itu selama lebih dari separo hidupnya. Sejak berusia 27 tahun, kesehariannya menghadap tiga bak besar berisi air santan bercampur cendol. Air garam dan ketan hitam sebagai penambah rasa sengaja ditaruh di mangkuk. Matun selalu menyodorkan mangkuk dengan lepek satu-satunya. ‘’Ambil mangkuknya saja, karena saya tidak punya lepek banyak,’’ pesannya ke setiap pelanggan baru.

Berjualan dawet ternyata temurun bagi Matun. Ayahnya dulu berjualan dawet keliling ke sawah-sawah dengan pikulan. Tak lagi kuat dimakan umur, ayah Matun gantung pikulan pada 1982 silam. Anak perempuan itu yang meneruskan jejak ayahnya. Matun saban pagi bersepeda dari Siman ke Tamanarum. ‘’Saya minta anak saya meneruskan berjualan dawet,’’ kata ibu dua anak itu. *(hw/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button