Bupati Menulis

Masjid Ki Mageti

SEJARAWAN Belanda sekaligus ahli bahasa Jawa Dr Pigeaud yang pernah bekerja sebagai taalambternaar (pegawai ahli bahasa Jawa 1926-1938) di Surakarta menyatakan bahwa Magetan berasal dari kamagetan atau pamagetan. Bila ditelisik lebih lanjut berasal dari kata Jawa kuno pamaget yang artinya dalem ageng atau perumahan yang besar.

Namun, yang berkembang dan diyakini masyarakat serta pemerintah daerah sampai sekarang, Magetan berasal dari Ki Mageti, tokoh tetua pada waktu itu. Dikisahkan, pada 1646 Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan VOC. Perjanjian tersebut sangat merugikan pihak Mataram. Oleh sebab itu, banyak kerabat yang kecewa. Harga diri sebagai kerajaan berdaulat diinjak-injak Belanda.

Dalam suasana seperti itu kerabat keraton Mataram yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondokusumo dan patih Mataram yang bernama Pangeran Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan ulama, menentang kebijakan Sultan Amangkurat I. Atas tuduhan itu, Basah Gondokusumo diasingkan ke Gedong Kuning, Semarang, selama 40 hari. Di tempat kediaman kakeknya Basah Suryaningrat. Sedangkan Patih Nrang Kusumo segera meletakkan jabatan dan pergi bertapa ke daerah sebelah timur Gunung Lawu.

Dalam pengasingan tersebut Basah Gondokusumo mendapat nasihat dari kakeknya, Basah Suryaningrat, dan kemudian beliau berdua sepakat menyingkir ke daerah sebelah timur Gunung Lawu. Beliau berdua memilih tempat ini karena menerima berita bahwa di sebelah timur Gunung Lawu sedang diadakan babat alas. Pembabatan hutan itu atas perintah Ki Ageng Mageti sebagai cikal bakal daerah tersebut.

Agar mendapat tanah sebagai tempat berdiam, Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya, Dukuh Gandong Kidul (Gandong Selatan). Tempatnya diyakini di sekitar alun-alun Kota Magetan. Hasil dari pertemuan itu, Basah Suryaningrat diberi sebidang tanah di utara Sungai Gandong. Setelah mengetahui bahwa beliau berdua masih kerabat Mataram, akhirnya Ki Ageng Mageti mempersembahkan seluruh tanah miliknya sebagai bukti kesetiaan kepada Mataram. Sebagai penghormatan terhadap kesetiaan Ki Ageng Mageti, maka wilayah yang sekarang dinamakan Magetan.

Lereng timur Gunung Lawu dulu sulit dijamah. Sehingga sumber informasi sangat terbatas. Demikian juga sejarah perkembangan Islam di Magetan. Namun demikian, terdapat kisah bagaimana Magetan dapat diislamkan. Salah satunya kisah wali sanga.

Kesembilan wali ditugaskan raja Demak untuk mencari putra Majapahit yang lari dan hilang di lereng Gunung Lawu. Dalam pencarian itu, para wali mendirikan masjid di Magetan. Masjid-masjid tersebut kemudian dipercaya sebagai masjid tiban.

Ada sepuluh masjid tiban atau masjid yang jatuh dari langit, semuanya berada di Kecamatan Plaosan. Yakni, di Dusun Klaten, Desa Puntukdoro; Dusun Bulugunung, Desa Bulugunung; Dusun Babar, Desa Bulugunung; Dusun Bogosari, Desa Bogoarum; Dusun Pandean, Desa Bogoarum; Dusun Genggong, Desa Randugede; Dusun Sampung, Desa Sidorejo; serta di Desa Nitikan dan Desa Getasanyar. Masih ada beberapa yang diyakini masyarakat sebagai masjid tiban.

Sementara, sejarah bupati Magetan dimulai ketika dilantiknya Basah Gondokusumo menjadi penguasa di Bumi Mageti dengan gelar Yosonegoro. Peristiwa itu diyakini terjadi pada 12 Oktober 1675 dan ditetapkan sebagai tanggal hari jadi Magetan. Maka, adanya masjid agung di sebuah kabupaten lama seperti Magetan menandakan usia masjid tersebut juga sangat lama.

Saat ini, Masjid Agung Magetan yang baru telah berdiri megah, menggantikan yang lama. Namun, saka dan kayu-kayu dari masjid agung lama, yang berciri khas Jawa itu, masih disimpan dan dirawat dengan baik. Berupa saka kayu jati dan atap susun seperti Masjid Agung Demak, Banten, Keraton Jogjakarta, dan Surakarta. Selain empat saka utama, dada peksi tumpuk dari masjid agung lama juga tersimpan dengan baik.

Agar nilai sejarah tidak hilang, saya dan teman-teman berinisiatif membangun kembali kerangka masjid agung lama itu dengan biaya swadaya. Bertempat di kompleks Kebun Bunga Refugia. Atas usul ulama sepuh, masjid tersebut diberi nama Masjid Ki Mageti. Sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Mageti. Masjid itu juga akan mempertahankan bentuk arsitek kejawaannya. Hanya satu niatan, untuk menyelamatkan nilai masjid sekaligus tempat ibadah dengan nilai kesejarahannya. (*/naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button