Ponorogo

Mariman, Hidupi Keluarga dari Jasa Memperbaiki Sepatu

Dipatok Rp 20 Ribu Masih Ada yang Menawar

Di keluarga Mariman, bekerja sebagai tukang memperbaiki sepatu merupakan tradisi. Namun, kegiatan jasa turun-temurun di Jalan Soekarno Hatta, Ponorogo, itu bakal berhenti di dirinya.

========================

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Radar Ponorogo

BELASAN pria duduk di bawah payung besar di trotoar Jalan Soekarno Hatta, Ponorogo. Di depannya terdapat sebuah kotak kayu berisikan peralatan sol sepatu. Seorang di antaranya bernama Mariman. Jari keriputnya terampil memasukkan benang jarum ke kulit sepatu pantofel di pangkuannya. Alas kaki yang sebelumnya lebar menganga itu perlahan tertutup. ‘’Sudah mangkal di sini sejak 34 tahun silam,’’ katanya.

Mariman menjadi tukang jahit sepatu melanjutkan pekerjaan ayahnya. Ketika kecil dulu, dia sering ikut ayahnya lesehan di pinggir jalan memperbaiki sepatu rusak. Dari situ, teknik menjahit sepatu dikuasai. Hingga akhirnya menggelar lapak sendiri di depan kantor pos kawasan Jalan Sokarno Hatta. Meski terlihat sepele, menjahit sepatu butuh ketelatenan dan kecermatan. Sudah tidak terhitung jarinya tertusuk jarum. ‘’Tidak bisa menjadi pekerjaan turun-temurun karena tiga anak saya tidak ada yang bisa menjahit sepatu,’’ ungkap pria 68 tahun itu.

Untuk menuju lokasi lapaknya, warga Desa Nambangrejo, Sukorejo, ini harus menempuh perjalanan setengah jam. Ditempuh dengan bersepeda sejauh 10 kilometer. Jasanya dibuka mulai pukul 08.00 hingga 15.00. Demi menyambung hidup, dia rela berpanas-panasan dan kehujanan. ‘’Kalau hujan pelanggan tidak terlalu ramai. Jadinya tutup lebih cepat,’’ paparnya.

Sering ketika asyik menjahit, hujan deras mengguyur. Aktivitas itu langsung dihentikan. Sepatu-sepatu yang belum selesai dijahit langsung dimasukkan dalam kotak. Mariman berteduh dengan tubuhnya menempel dinding dan tertutup atap bangunan. ‘’Ya, seperti itu suka dukanya,’’ ucapnya seraya menyebut selain sepatu, dia juga menerima jasa memperbaiki payung dan tas rusak.

Jasa memperbaiki sepasang sepatu berbahan kulit Rp 20 ribu dan yang biasa Rp 15 ribu. Meski tergolong murah, banyak calon pelanggan yang menawar. Menjelang Lebaran atau tahun pelajaran baru, permintaan selalu melonjak. Tidak jarang dia menolak karena kewalahan. Maklum, tenaganya tak sebesar ketika muda dulu yang mampu menjahit belasan sepatu dalam sehari. ‘’Meski hasil pas-pasan, tapi bisa menghidupi keluarga,’’ ungkapnya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close