Magetan

Mangkrak Setahun, Pedagang Mandek Berjualan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pembangunan kios agrowisata tuntas sejak 2015 lalu. Namun, sampai sekarang tidak dioperasikan. Pemkab menyebut kendala ada pada appraisal. Namun, terkait kapan pasar di jalan tembus Sarangan itu dapat kembali digunakan, hingga kini tidak ada kejelasan. Seluruh pedagang akhirnya berhenti berjualan pada 2018.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan Eddy Suseno mengatakan, kios itu rencananya bakal dikelola swasta. Bahkan, pada 2019 lalu pihaknya sudah bertemu dengan calon pengelolanya. Malah sudah dilakukan penghitungan appraisal terkait besaran harga sewa kios. ‘’Tapi, karena tim appraisal-nya tidak masuk dalam daftar yang ditunjuk Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sehingga harus menunjuk appraisal lain,’’ kata Eddy Rabu (15/1).

Dia berharap proses appraisal cepat dilakukan. Supaya kios agrowisata tersebut segera dapat dimanfaatkan. Sesuai rencana, sebanyak 10 kios itu rencananya akan dikonsep menjadi kafe modern. Tetapi, produk yang dijual pedagang lebih beragam. Seperti kopi, susu, dan buah-buahan. ‘’Dulu sepi karena belum ada lahan parkirnya. Sekarang semua sudah diperbaiki. Termasuk kontur tanahnya yang miring, diratakan,’’ terang Eddy.

Yang jelas, pihaknya memastikan kondisi kios agrowisata tersebut masih layak untuk ditempati. Sekalipun banyak coretan ditembok kios, Eddy mengaku akan melakukan pengecatan ulang sebelum diserahkan ke pihak pengelola. ‘’Fasilitas toiletnya juga masih berfungsi dengan baik,’’ imbuhnya.

Seperti diketahui, kios agrowisata itu dibangun pada 2015 lalu. Nilai proyeknya sebesar Rp 196 juta. Saat awal bangunan itu rampung dibangun, terdapat sekitar 20 pedagang yang berjualan di kios tersebut. Tapi, lantaran minim pengunjung, lambat laun para pedagang enggan berjualan. (fat/c1/her)

Molor karena Kontraktor Tak Punya Modal 

HARI ini (16/1) adalah deadline CV Dimensi Konstruksi menyelesaikan pekerjaan revitalisasi Pasar Agrobis Plaosan. Itu sesuai tambahan waktu pengerjaan dari pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek ini. Namun, belum rampung juga. Rolling door belum terpasang. ‘’Sesuai aturan, harus dikenai denda,’’ kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Magetan Sucipto kemarin (15/1).

Sesuai keterlambatan, rekanan pelaksana harus membayar denda sekitar Rp 2 juta. Berdasar nilai kontrak Rp 2,18 miliar. Pihak pelaksana pun menyanggupi karena sudah menjadi konsekuensi yang harus ditanggung. Pun Pemkab Magetan masih memberi kesempatan untuk menyelesaikan dengan pemberian adendum. ‘’Harus diselesaikan,’’ tegasnya.

Sucipto menyebut sudah merapatkan keterlambatan itu. Pun sudah berkonsultasi dengan pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan. Meski tim pengawal dan pengaman pemerintah dan pembangunan daerah (TP4D) itu sudah dibubarkan. Namun, Sucipto ingin ada perlindungan hukum terhadap pemberian adendum  itu. ‘’Supaya yang kami lakukan tidak salah,’’ ujarnya.

Keterlambatan itu, lanjut Sucipto, karena pihak pelaksana tidak punya modal. Sehingga, tidak bisa membeli material bangunan. Alhasil, melenceng dari skedul. Batas akhir kontrak pekerjaan 30 Desember lalu tak bisa menyelesaikan. Pihak pelaksana lantas minta perpanjangan waktu 15 hari.

Meski begitu, pihaknya tak serta merta menerima alasan tersebut. Sebab, pembayaran dilakukan per termin. Sehingga, seharusnya pelaksana tidak kesulitan modal. Duit yang sudah ditransfer Pemkab Magetan bisa digunakan membeli material. ‘’Seharusnya, pelaksana bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak,’’ sesalnya.

Karena molor, pedagang Pasar Agrobis pun terdampak. Mereka terpaksa harus lebih lama lagi berjualan di pinggir jalan. Mereka belum bisa menempati kios baru. Sebab, harus menunggu penyerahan proyek dari pihak pelaksana. ‘’Kami berharap bisa segera ditempati pedagang. Tapi, masih belum P-1,’’ pungkasnya. (bel/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button