featuresPonorogo

Mandi saat Gempa, Sempat Lari tanpa Busana

Thomas Suyanto saksi hidup gempa bumi yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah. Warga yang tinggal di Jalan Batu Bata Indah, Tatura Utara, Palu, itu bersyukur. Dia dan istri serta kedua anaknya berhasil pulang ke kampung halaman di Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun. Bencana mengajarkannya betapa berharganya hidup yang dianugerahkan Sang Mahakuasa.

UDARA segar dihirup dalam-dalam oleh Thomas Suyanto. Tidak terhitung berapa nikmat yang dia rasakan sepulangnya dari tanah bencana. Meski kepulangannya hanya membawa baju yang melekat di tubuhnya. Berkali-kali dia sampai meneteskan air mata mengenang dahsyatnya bencana yang memorakporandakan perantauannya.

Di pagi buta dia mulai jalan kaki menyusuri jalan naik-turun di desanya. Sepanjang hutan pinus yang dilaluinya menambah haru atas nikmat hidup yang diberikannya. Dia melangkahkan kaki menuju Pasar Baosan Lor, Ngrayun, yang berjarak 7-an kilometer dari tempat tinggalnya. Tidak terhitung berapa kali pengendara yang lewat menawarkan tebengan. ‘’Bukan menolak, tapi memang ini nazar saya. Kalau sekeluarga selamat dan bisa pulang, saya mau jalan kaki PP (pulang-pergi, Red) dari tempat tinggal ke Pasar Baosan Lor,’’ kata Thomas.

Ingatan tentang gempa di kepala masih dapat diurainya dengan detail. Pria kelahiran 1981 itu sempat meneteskan air mata ketika menceritakan betapa ricuhnya situasi dan porak porandanya daerah perantauannya tersebut. ‘’Berusaha lari, sempat panik, sampai-sampai pasrah. Hidup-mati milik Tuhan,’’ ucapnya.

Dia yang sehari-hari jualan bakso dan mi ayam dekat Matahari di daerah rantaunya sudah merasakan gempa sejak Jumat pagi (28/9). Semakin siang, gempa yang mengguncang semakin terasa. Meski demikian, dia tetap membuka kedai seukuran 8×15 meter yang digunakannya mencari nafkah sekaligus tempat tinggalnya bersama istri dan kedua anaknya. Mendadak awan hitam menyelimuti kota yang semula cerah dengan terik panas matahari yang menyengat tidak seperti biasanya. ‘’Ada gempa, keluar, mereda. Selang beberapa menit gempa lagi, keluar rumah lagi,’’ ungkap suami Inuk Sarmini itu.

Menjelang magrib tepatnya pukul 17.00 waktu setempat, dia mandi. Sementara Inuk Sarmini, istrinya, menunggu kedai jika sewaktu-waktu ada pembeli. Berselang dua menit, gempa dahsyat dirasakannya. Bunyi reot dari tempat tinggalnya yang terbuat dari papan kayu itu terdengar nyaring. Bergegas lari keluar rumah begitu merasakan bumi seolah bergeser. Dia sekeluarga hanya pasrah merunduk di jalan sambil memanjatkan doa. Tiga menit, kekuatan gempa mulai menurun. Dia berdiri dan baru menyadari bahwa dirinya telanjang bulat. Bergegas Thomas lari mengambil pakaian di dalam rumah yang ditakutinya bakal roboh. ‘’Dipakai di luar pakaiannya, kemudian menolong istri yang kejatuhan motor, untung selamat beserta anak bungsu yang digendongnya,’’ paparnya sembari mengatakan Ayu Dia Ardista Tri Ana Putri, 6, anak pertama, berada di samping ibunya.

Guncangan belum berhenti, dia melihat seluruh warga berlarian seolah saling bertubrukan. Di pikirannya, langsung tebersit Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Palu. Menggendong anak sulungnya, dia bersama istri yang menggendong anak bungsunya berjalan kaki menuju bandara yang berjarak 7-an kilometer dari tempat tinggalnya tersebut. Sepanjang jalan, dia melihat seluruh bangunan luluh lantak. Pun, jalan yang dilewati retak. Tidak jarang dia jatuh karena tersandung oleh retakan jalan. ‘’Alhamdulillah tiga jam sampai di bandara, tapi tanah masih terasa bergoyang karena trauma,’’ sambungnya.

Sesampainya di bandara, Thomas menyobek spanduk di depan. Spanduk itu digunakan untuk alas sekaligus selimut tidur istri dan anaknya. Situasi malam itu benar-benar kacau. Listrik padam, kemudian dia mendengar bunyi ledakan menggelegar diikuti guncangan hingga sepuluh kali. Saat itu air matanya tak henti menetes sembari terus memanjatkan doa. Dalam benaknya, ke mana lagi harus lari saat bandara bukanlah tempat yang aman terhindar dari bencana. ‘’Pikiran saya di bandara tempatnya tinggi. Kalau tempat itu hancur karena gempa, tak tahu lagi harus lari ke mana,’’ tuturnya. *** (nur wachid/c1/fin)

 

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button