Madiun

Maksimalkan Deteksi Kehamilan Risiko Tinggi

Jawab Ketakutan Cek Kesehatan Reproduksi

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Butuh pemikiran panjang untuk membujuk orang tua agar bersedia menjalani KB jangka panjang. Di kota ini, 44 persen pengetahuan orang tua tentang program ini dinilai masih kurang. Bahkan, 30,5 persen masih ketakutan. Sisa persentase 14 persen dilandasi faktor lain dan 11,1 persen dilatarbelakangi masalah kepercayaan yang bertentangan dengan gagasan membendung angka kelahiran.

Tim Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit (PKBRS) RSUD Kota Madiun akhirnya menciptakan layanan wisata keluarga berencana (KB) dan 5 in 1 plus. Guna memaksimalkan pelayanan KB pasca persalinan (KBPP). Serta Pelayanan Deteksi Kehamilan Risiko Tinggi (Pendekar Hati). ‘’Inilah yang melatarbelakangi kami meluncurkan layanan ini,’’ kata Ketua Tim PKBRS RSUD Kota Madiun dr Muhammad Nur SpOG.

Dokter spesialis kandungan itu menguraikan perbandingan cakupan KBPP di masa pandemi. Persentase 67,53 persen Maret tahun lalu turun menjadi 51,11 persen tahun ini. April tahun lalu, dari 54,2 persen turun 52,51 persen; Mei 59,35 persen turun ke 58,57 persen; dan Juni 57,22 persen ke 54,38 persen. ‘’Solusi webinar KB, live Instagram, dan extend penggunaan IUD,’’ jelasnya.

Inovasi itu memiliki fungsi masing-masing. Pertama, edukasi konseling KB guna mengedukasi masyarakat tentang KB. Kedua, pemasangan KB dengan mengalihkan rasa takut yang akut pada calon akseptor. Ketiga, duta KB untuk menyebarluaskan informasi KB. Keempat, ustad KB bertugas memberikan informasi tentang landasan hukum agama terkait. ‘’Selanjutnya pemeriksaan gratis dan menghimpun tim dalam WhatsApp Group yang didampingi tim,’’ paparnya.

Kepala BKKBN Pusat dr Hasto Wardoyo mengapresiasi inovasi ini. Sekaligus merekomendasikan agar dapat dijadikan percontohan bagi daerah lain. Mengingat, inovasi wisata KB dan 5 in 1 plus itu ditetapkan sebagai layanan terbaik dari 198 rumah sakit di tanah air. ‘’Pelayanan gratis ini patut dijadikan percontohan,’’ kata Hasto.

Inovasi ini terbukti mampu menekan hingga zero komplikasi pada penanganan KBPP dan KB pasca keguguran (KBPK). Padahal, angka kehamilan tidak diinginkan di Indonesia masih cukup tinggi. Persentasenya mencapai 17,5 persen. ‘’Kami harap inovasi ini juga menjawab tantangan selama pandemi. Di mana banyak pasien ragu untuk memeriksakan kesehatan reproduksi ke fasilitas kesehatan,’’ tuturnya.

Wali Kota Madiun Maidi mengakui tren KB masyarakat di wilayahnya sempat turun saat awal pandemi pada Februari-Maret. Namun, edukasi terus digencarkan agar calon orang tua disiplin mengatur jarak kehamilan. Selain menggencarkan penyuluhan guna mengurangi pernikahan dini (di bawah usia 20 tahun). ‘’Jarak kehamilan perlu diatur. Jangan sampai kurang dari tiga tahun,’’ kata Maidi. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close