AdvertorialPonorogo

Making Ponorogo Open Defecation Free

STIMULAN JAMBAN SEHAT TUMBUHKAN KESADARAN MASYARAKAT

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Program stimulan jamban sehat memberi beragam manfaat. Digulirkan mulai 2015, bantuan tersebut secara konsisten terus memperbaiki kualitas sanitasi dan memicu perilaku hidup sehat di masyarakat. Jumlah warga yang buang air besar (BAB) sembarangan alias open defecation (OD) terus berkurang. ‘’Harapannya tahun ini Kabupaten Ponorogo dapat menyandang status open defecation free (ODF) atau terbebas dari BAB sembarangan,’’ kata Kepala Dinkes drg Rahayu Kusdarini.

Persoalan sanitasi pada 2014 memantik pemkab untuk menggulirkan program tersebut. Irin –sapaan Rahayu Kusdarini- menyebut bahwa di masa itu angka OD di Ponorogo masih cukup tinggi. Pemerintah pusat kala itu juga menggulirkan program bantuan jambanisasi. Namun, dipandang kurang efektif mengurangi OD. ‘’Saat dievaluasi, pemberian jamban menjadi kurang efektif karena BAB sembarangan itu bukan karena orang tidak punya jamban. Tapi lebih karena perilaku,’’ sebutnya.

Menurut Irin, masyarakat perlu dipicu untuk menerapkan perilaku hidup sehat. Maka digulirkanlah program stimulan jamban sehat mulai 2015. Di tahun tersebut, pemkab mengalokasikan 1.313 stimulan jamban sehat. Pada 2016, stimulan ditambah menjadi 1.652. Sempat terhenti pada 2017, program berlanjut pada 2018. Di tahun tersebut, 4.435 stimulan diberikan daerah. Pada 2019 lalu, stimulan diberikan sebanyak 4.000. ‘’Rencananya, tahun ini akan ada 6.000 stimulan,’’ papar Irin.

Stimulan jamban sehat sukses menekan angka OD. Pada 2015, masih ada 57.577 KK yang masih berstatus OD. Pada 2016, berkurang menjadi 48.259 KK. Pada 2017 terus berkurang menjadi 36.263 KK. Angka OD kembali berkurang pada 2018 menjadi 24.942 KK. Pada 2019, angka OD tinggal 14.631 KK. ‘’Per hari ini, angka OD atau yang belum mengakses jamban sehat di Ponorogo berjumlah 12.776 KK,’’ jelas Irin.

Program ini, lanjutnya, memicu masyarakat untuk memiliki rasa handarbeni. Itulah yang membedakan antara program jambanisasi dan stimulan jamban sehat. ‘’Ketika masyarakat ikut membangun, mereka akan menggunakan jamban sehat tersebut. Lima tahun lalu, ketika penerima sudah diberi jamban, mereka tetap di sungai. Itulah kenapa diubah menjadi stimulan karena perlu peran dari penerima bantuan,’’ terangnya.

Bupati Ipong Muchlissoni menuturkan, stimulan jamban sehat memberikan manfaat secara konsisten. Semakin banyak desa menyandang status ODF. Awalnya, dia menargetkan Ponorogo berstatus kabupaten ODF pada 2021. Lantas, para camat dan kepala desa mengatakan Ponorogo akan siap berstatus ODF di tahun ini. Data yang dihimpun dinkes, tinggal 74 desa yang belum menyandang status ODF. ‘’Ini yang akan segera diselesaikan pada tahun ini,’’ kata bupati.

Ipong memandang ODF penting lantaran sanitasi sangat berkaitan dengan persoalan lain. Stunting, misalnya, salah satu penyebabnya karena sanitasi yang kurang baik. Perbaikan sanitasi sejak 2015 lewat program stimulan jamban sehat pun turut berkontribusi terhadap penurunan persentase stunting daerah. Dari 37 persen di awal program bergulir, kini tinggal 17,26 persen. ‘’Sanitasi yang sehat sangat penting bagi ibu hamil supaya terhindar dari diare. Agar bayi yang dikandung dapat tercukupi gizinya sehingga terlahir sehat dan tidak stunting,’’ pungkasnya. (naz/c1/fin/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button