featuresMadiun

Main Sinetron Religi-Komedi, Pemuda asal Jiwan Adu akting dengan Eza Gionino

Langkah Mukhammad Kukuh Prasetya meretas jalan sebagai seorang aktor mulai membuahkan hasil. Sosok pemuda 26 tahun itu mulai berseliweran di layar kaca lewat sejumlah sinetron. Juga beberapa film layar lebar, meski sekadar menjadi figuran.

DILA RAHMATIKA, Madiun

EKSPPRESI Mukhammad Kukuh Prasetya terlihat serius saat membaca naskah sebuah sinetron kejar tayang sore itu. Kondisi lokasi syuting yang ramai seolah tak dihiraukannya. Dia baru menghentikan aktivitasnya membaca naskah saat sang sutradara memanggil namanya untuk proses take gambar.

Mengambil setting jalan di permukiman padat penduduk, sore itu Kukuh memeragakan adegan terjatuh dari sepeda onthel bersama seorang hansip. Sembari memegang paha kirinya, Kukuh yang kesakitan lantas berdialog dengan pemeran ketua RT, mengabarkan bahwa si tokoh utama sedang diculik. Tiba-tiba, cut! Sang sutradara meminta adegan diulang lantaran ada kesalahan pengucapan. ‘’Saya lupa itu syuting episode yang ke berapa,’’ katanya.

Sudah sebulan lebih wajah Kukuh menghiasi layar kaca lewat sinetron Aku Bukan Ustadz yang ditayangkan salah satu stasiun televisi nasional. Dalam sinetron itu Kukuh beradu akting dengan sejumlah aktor papan atas seperti Eza Gionino, Derry Drajat, Diky Chandra, dan Cok Simbara.

Syuting episode terakhir sinetron bergenre religi-komedi itu dilakukan Sabtu lalu (28/7). Lokasinya di Cibubur, Jawa Barat. ‘’Saya berperan sebagai bendahara RT asal Jawa yang lucu. Ini sinteron pertama saya,’’ terang Kukuh sembari menyebut telah menyelesaikan syuting lebih dari 40 episode sinetron itu.

Kemampuan berakting Kukuh tidak lepas dari latar belakang pendidikannya, yakni jebolan Seni Teater ISI Jogjakarta. Pun pemuda 26 tahun itu mengenal dunia seni peran sejak bergabung ekstrakurikuler teater saat masih duduk di bangku SMP. ‘’Tapi pas SMA berhenti karena saya gabung klub sepak bola,’’ ungkapnya.

Pasca lulus SMA, Kukuh sempat berniat melanjutkan studi di jurusan pendidikan olah raga. Namun, setelah merenung, hatinya lebih sreg dengan dunia seni. ‘’Waktu itu terpikir teater atau tari. Akhirnya saya pilih teater,’’ kenang pemuda asal Desa Sambirejo, Jiwan, Kabupaten Madiun, ini.

Kemampuan seni teater Kukuh berkembang pesat saat kuliah di ISI. Bahkan, pernah mewakili kampusnya di ajang pekan seni mahasiswa nasional (peksiminas) di Kalimantan Tengah pada 2014 dan berhasil menyabet juara harapan I. Dia juga terlibat dalam pementasan teater bertajuk Grohk pada festival teater internsional di Guangzhou, Tiongkok, dua tahun lalu. ‘’Mewakili Indonesia. Semacam apresiasi budaya dari beberapa kota,’’ ujarnya.

Dari teater, Kukuh lantas merambah dunia perfilman. Belasan film indie pernah dijajalnya. Menginjak semester V, melalui teman, Kukuh berkenalan dengan sutradara sebuah FTV saat syuting di Jogjakarta. Sejak itulah tawaran bermain FTV mengalir. ‘’Pertama langsung dapat banyak adegan. Waktu itu akting sebagai bandit yang merampok benda purbakala di museum,’’ ungkapnya.

Proses latihan Kukuh saat hendak memerankan karakter tertentu terbilang sederhana. Setengah tampil, dia mengobrol dengan seseorang sesuai karakter yang akan dimainkannya. ‘’Misalnya tokoh jahat, saat ngobrol mata dipelototi. Reaksi orang yang saya ajak bicara awalnya kaget. Setelah tahu kalau sedang latihan dia baru ngerti,’’  bebernya.

Sejauh ini Kukuh sudah terlibat beberapa film ternama. Sebut saja Guru Bangsa: Tjokroaminoto, Soekarno, Ayat-Ayat Cinta, dan Sultan Agung. Meski hanya sebagai figuran, dia merasa bersyukur. Setidaknya, keterlibatannya dalam beberapa film itu merupakan pengalaman sangat berharga. ‘’Apalagi, nggak semua saya dapatkan lewat proses casting, melainkan dari perkenalan teman,’’ katanya. ***(isd)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button