AdvertorialMadiun

Maidi Pamer Pahlawan Street Center ke DPRD Jateng

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Penataan Pahlawan Street Center (PSC) bakal diadopsi empat daerah di Jawa Tengah. Tak hanya mengadopsi konsep dan tampilan, juga cara pendanaan dan menyinergikan corporate social responsibility (CSR).

Ketua Komisi D DPRD Jateng Alwin Basri punya alasan mengajak rekan-rekannya belajar di Kota Madiun. Salah satunya memandang cara pencegahan Covid-19 dan pemulihan ekonomi di kota ini berjalan efektif. ‘’Penanganan kota cukup bagus dan tertata,’’ ujarnya.

Wakil rakyat dari Jateng ini menganggap pemkot berhasil menyulap lokasi yang dianggap biasa menjadi luar biasa. Mulai jalur pedestrian ala Malioboro hingga penataan Sumber Umis dan Sumber Wangi yang semula kumuh disulap menjadi menarik. ‘’Penataan Jalan Pahlawan ini hebat,’’ sebutnya.

Alwin juga terkesan dengan keberhasilan pemkot mengintegrasikan CSR dalam pembangunan kota. Dia yakin, upaya yang telah dilakukan itu tidak semudah membalik telapak tangan. ‘’Biasanya CSR sulit diajak kerja seperti ini,’’ tuturnya.

Alwin bakal mendorong beberapa daerah di Jateng untuk meniru pembangunan di Kota Madiun. ‘’Kami akan dorong Magelang, Tegal, Salatiga, dan Pekalongan mengadopsi pembangunan di sini,’’ ucapnya.
Ada beberapa daerah yang memiliki karakter serupa dengan Kota Madiun. Alwin bakal mendorong beberapa daerah di Jateng untuk meniru pembangunan di Kota Madiun. ‘’Kami akan dorong Magelang, Tegal, Salatiga, dan Pekalongan mengadopsi pembangunan di sini,’’ ucapnya.

Wali Kota Madiun Maidi menyatakan seluruh pembangunan dikawal ketat. Tak jarang dirinya berpanas-panasan untuk meninjau langsung progres pekerjaan. ‘’Saya tidak ingin kota ini dianggap kecil seperti luas wilayahnya. Biar kecil tapi harus jadi matahari yang menyinari daerah-daerah di Jatim wilayah barat,’’ kata Maidi.

Wali kota juga memperhatikan detail kualitas kelayakan pekerjaan. Seperti yang dilakukan awal pekan ini. Maidi tes kelayakan hasil pekerjaan dengan melindas jalur pedestrian di Jalan Mastrip menggunakan mobil hardtop. Cara tak biasa itu dilakukan semata untuk menguji kualitas pedestrian. Trotoar tidak ambles meski dilindas mobil seberat 3,5 ton. ‘’Pembangunan tidak hanya mengejar rapi dan indah. Tapi, juga harus kuat. Percuma kalau terlihat baik tapi cepat rusak,’’ ujarnya.

Hal itu menjadi salah satu indikator infrastruktur memiliki usia lebih panjang. ‘’Kalau kualitasnya bagus, secara tidak langsung menghemat anggaran. Masa perbaikan bisa lebih lama. Anggaran bisa untuk yang lain,’’ ucapnya. (her/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close