Madiun

Maidi Berani Buka Gerbang Sekolah

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Wali kota Madiun Maidi berani membuka gerbang sekolah bulan ini. Asalkan pembelajaran tatap muka (PTM) mendapat persetujuan dari orang tua. Sederet syarat ketat bakal diterapkan sebelum memulai pembelajaran. Awalan PTM hanya diberlakukan bagi kelas atas di jenjang SD dan SMP. Khususnya, kelas VI dan IX yang segera menghadapi ujian. ‘’Jamnya kami batasi,’’ kata Maidi.

Maidi meminta seluruh sekolah wajib mematuhi protokol kesehatan. Mulai mencuci tangan sebelum memasuki area sekolah, wajib pakai masker, hingga jaga jarak. Jika ada sekolah yang melanggar, PTM ditangguhkan. ‘’Kalau tidak patuh, kami tutup lagi. Protokol kesehatan mutlak harus dijalankan,’’ ujarnya.

Jika dua komitmen ini telah terpegang, Maidi tak perlu menanti status persebaran Covid-19 di Kota Madiun beralih zona hijau. Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri (Mendikbud, Kemenag, Menkes, Mendagri), daerah zona hijau dan kuning diizinkan membuka PTM. Saat ini dinas pendidikan sedang menampung kuesioner persetujuan orang tua. Bagi orang tua yang tidak setuju PTM tetap difasilitasi pembelajaran jarak jauh (PJJ). ‘’Yang setuju berarti siap tatap muka. Bagi yang tidak setuju berarti tetap daring (dalam jaringan),’’ tuturnya.

Maidi paham anak-anak sudah rindu masuk sekolah. Meskipun sejauh ini berbagai kebutuhan PJJ telah difasilitasi. Tak hanya bantuan kuota internet dan wifi gratis, juga laptop. ‘’Daring tidak ada kendala karena laptop sudah dipegang siswa. Tapi anak-anak kangen masuk sekolah,’’ ungkapnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Madiun dr Tauhid Islamy mengingatkan agar pembukaan PTM melalui uji coba terlebih dahulu. Meskipun telah ada persetujuan dengan orang tua. Dari uji coba nantinya dilakukan monitoring dan evaluasi (monev). ‘’Juga mengacu aturan main dalam SKB Empat Menteri,’’ kata Tauhid.

Jika memang tidak ditemukan klaster persebaran di sekolah, PTM layak diterapkan bagi seluruh sekolah. Tauhid sependapat dengan wali kota berencana merealisasikan PTM secara berjenjang. ‘’Tidak langsung anak-anak kecil. Bisa SMA dulu misalnya,’’ bebernya.

Penerapan protokol kesehatan tidak bisa dibebankan kepada sekolah saja. Pelaksanaannya harus melibatkan tripartit pendidikan. Mulai siswa, orang tua, hingga seluruh warga sekolah. Agar persebaran dapat dicegah dari hulu sampai hilir. ‘’Berangkat dan pulang sekolah nonrisiko tertular Covid-19,’’ pesannya.

Tauhid juga menyinggung protokol bangunan. Pemerintah wajib memperhatikan konsep ventilasi durasi jarak (VDJ). Kelas yang memiliki fasilitas air conditioner (AC) wajib dilengkapi exhaust. Sehingga udara dapat tersirkulasi dengan baik. ‘’Kalau tidak ada sirkulasi, matikan AC dan buka jendela,’’ imbaunya.

Jika kelak dari monev ditemukan kasus positif, pemkot harus menangguhkan PTM kembali. Dia tidak ingin pembukaan sekolah salah perhitungan sehingga menimbulkan ledakan kasus baru seperti di Korea Selatan. ‘’Sudah ada yang coba buka kemudian jadi klaster. Di Korea Selatan begitu. Ada yang positif, sekolah langsung tutup kembali,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Seluruh Guru Setuju Tatap Muka

ENAM sekolah jenjang SD-SMP dicek secara acak kemarin. Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun memastikan kesiapan pembelajaran tatap muka (PTM) di SDN 3 Klegen, SDN Oro-oro Ombo, SDN 2 Mojorejo, SMPN 1, SMPN 4, dan SMPN 10. ‘’Beberapa sekolah sudah memenuhi syarat untuk pembelajaran tatap muka,’’ kata Kadindik Kota Madiun Heri Wasana.

Ada beberapa tahapan agar sekolah dapat melangsungkan pembelajaran tatap muka. Dimulai dengan mendata persetujuan dari orang tua. Sekaligus menyiapkan sarana dan prasarana protokol kesehatan yang berpedoman pada 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Status zonasi kota ini sekarang kuning. Maka, jumlah siswa yang diperbolehkan PTM di sekolah 50 persen. Sementara persetujuan orang tua siswa SD dan SMP sekitar 80 persen. ‘’Seluruh guru setuju PTM,’’ ujarnya.

Hari segera melaporkan hasil evaluasi ini ke wali kota. Kapan pastinya PTM dilangsungkan menanti koordinasi lanjutan dengan berbagai pihak. ‘’Kami terapkan hanya di sekolah yang benar-benar siap,’’ jelasnya.

Kepala SDN Oro-oro Ombo Siti Khotifah mengatakan, dari total 254 siswa, hanya 27 orang tua yang tidak setujui tatap muka. Pihaknya telah menyiapkan dua model pembelajaran sekaligus, yakni PTM dan PJJ. ‘’Seluruh keinginan orang tua kami tampung,’’ ujarnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button