AdvertorialMadiun

Maidi Ajak Petani Tanam Komoditas Selain Padi

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Optimalisasi lahan untuk mencukupi kebutuhan pangan terus diupayakan Pemkot Madiun. Namun sejumlah tantangan harus dihadapi pemkot. Misalnya kecenderungan pola pikir petani yang masih berkutat pada penanaman padi dan tidak tertarik menanam palawija. Mereka beralasan karena tidak ada jaminan asuransi dan harga menanam selain padi.

Persoalan itu diungkapkan Wali Kota Madiun Maidi saat menghadiri panen padi di Kelurahan Winong, Kecamatan Manguharjo, Rabu (29/7). Dia mengatakan melalui dinas pertanian dan ketahanan pangan secara perlahan akan mengedukasi petani yang tergabung dalam kelompok tani agar mau merubah pola tanam.

FOTO: WS HENDRO DISKOMINFO FOR RADAR MADIUN

Meskipub padi merupakan komoditas utama pangan, di sisi lain masih banyak komoditas di wilayah setempat yang bergantung dengan daerah lain. Seperti cabai, kacang dan bawang justru didatangkan dari sentra produksi di luar Kota Madiun. “Kita itu punya lahan sekitar 1.000 hektare tapi kan kalah dengan daerah lain. Mereka punya ribuan bahkan puluhan ribu hektare. Makanya lahan sekecil ini harus bisa mencukupi ekonomi yang ada di Kota Madiun. Jangan sampai kita cari di luar kota kemudian harganya mahal, akhirnya kita sendiri yang kesulitan. Jadi, kebutuhan Kota Madiun yang beraneka ragam ini kalau bisa petani mampu mencukupi itu,” kata Maidi.

FOTO: WS HENDRO DISKOMINFO FOR RADAR MADIUN

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun Muntoro Danardono mengakui, lahan produktif di Kota Madiun saat ini hanya 876 hektare. Itu pun tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan warga Kota Madiun sehingga didatangkan dari daerah tetangga. Sedangkan komoditas lain, seperti sayuran juga ditopang dari luar kota. Bukan karena lahan di Kota Madiun tidak bisa ditanami, tetapi karena petani enggan menanam sayur disebabkan keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. “Secara umum lahan tidak bisa mencukupi, karena rata-rata kebutuhan beras kita sekitar 18 ribu ton per tahun. Sedangkan kita hanya bisa menyediakan 7,5-11 ribu ton. Karena ada yang tanam padi, ada yang tidak itu kan juga mempengaruhi produksi,” terangnya.

FOTO: WS HENDRO DISKOMINFO FOR RADAR MADIUN

Selama ini, menurut dia, kebutuhan beras itu ditopang oleh daerah tetangga. Mulai dari Magetan, Ngawi, Nganjuk, Blitar dan Kediri. Meski begitu, Muntoro mengaku hasil panen padi di Kota Madiun tahun ini mulai terjadi peningkatan. Dari 7 ton per hektare di tahun 2019, menjadi 8,43 ton per hektare. “Ya karena memang kita bukan sentra produksi selain padi,” ujarnya.

FOTO: WS HENDRO DISKOMINFO FOR RADAR MADIUN

Panen padi di hamparan lahan seluas 28 hektare di Kelurahan Winongo itu juga turut dihadiri Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Mindo Sianipar. Menurutnya, sektor pertanian harus menjadi perhatian bersama dan mesti didorong agar produksi hasil pertanian yang dihasilkan melimpah. Namun selain menanam padi, para petani dan seluruh masyarakat utamanya di Kota Madiun juga disarankan menanam komoditas pendamping beras, agar tidak bergantung dengan daerah lain. “Selain menanam padi dalam kondisi sekarang ini saya minta petani menyuarakan kepada tetangganya untuk bertanam apa saja yang bisa dimakan. Bertanam pendamping beras, jangan ada satu jengkal pun tanah yang tidak ditanami. Tanamlah tanaman pagan karena kita tidak tahu covid-19 ini kapan berakhir,” kata Mindo. (her/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button