Litera

Mahananti

(Oleh: Ardi Wina Saputra)

            Dosa kecil ini serasa melekat ditubuh kami, menempel  dan sulit untuk kucabuti karena akarnya telah merambat hingga sumsum tulang. Dosa kecil ini tak sengaja tertanam sejak kecil. Seiring berjalannya waktu, dia ikut membesar sebesar tubuhku yang sekarang . Entah apa yang membuatnya betah disini, tapi semakin lama aku malah merasa nyaman.

***

            Hari ini adalah hari ketika aku dipecat dari kantorku.Kantor redaksi salah satu surat kabar terkemuka di kotaku. Pemecatan ini terjadi karena aku terlalu memperhatikan dosa kecilku, yang makin lama-makin manja saja.Tak satupun mandor yang mempekerjakan anak buah pemalas.Tak heran jika dia memecatku. Sambil kuminum segelas teh racik yang kubeli di pinggir jalan dekat taman ini, kucoba merenungkan apa kesalahan yang kulakukan.

            Satu minggu yang lalu, bosku menyuruhku untuk membuat reportase menarik tentang tempat pariwisata di negeri ini. Lambat laun tempat pariwisata kita seakan banyak yang tak terjamah oleh tangan-tangan mulus pemerintah. Terlebih tempat wisata yang mengandung unsur sejarah, seakan semakin lapuk dan tua saja, memfosil dan lama-lama menjadi abu. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa bosku menyuruhku untuk melaporkan tentang tempat wisata yang bersejarah. Pada awalnya aku menyanggupi tawaran bosku.Segera kutandatangani surat perjanjian kontrak. Surat perjanjian itu berisi kesepakatan yang menyetujui  bahwa aku bersedia dikeluarkan dari perusahaan ini, jika tidak mengumpulkan tugasku sesuai batas waktu yang ditentukan . Bukan tanpa alasan bosku tega berbuat seperti ini. Sudah dua kali aku melakukan kesalahan yang sama.Korporat media tua itu, sudah kehabisan rasa belas kasihnya ternyata, hingga tega menyodorkan surat ini kepadaku.

Entah kenapa, tak ada sebidang perasaanku yang marah atau kesal padanya, padahal saat menyodorkan surat itu padaku, dia berkoar-koar seperti singa di padang pasir. Namun memanglah aku yang salah, jadi ya buat apa kutanam sebidang perasaan dendam padanya. Setelah kutandatangani perjanjian keramat itu, kakiku langsung melangkah cepat menuju pintu keluar, bergegas pulang.

Saat itu hari sudah senja, matahari hampir tak terlihat lagi. Sesampainya dirumah, kuletakkan tubuhku di ranjang tua. Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, bahkan dengan sepatu yang masih menempel dikaki.Aku pulas tertidur. Sepertinya aku benar-benar lelah hari ini.

            Keesokan harinya, sehari setelah kuterima tugas itu, terlintas dibenakku untuk segera menyelesaikannya. Saat aku ingin mengerjakannya, tiba-tiba dosa kecilku menghampiriku, dan berbisik,

 “Besok saja mengerjaknnya  ya? kan masih lama, masih ada lima hari lagi”.

Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan pendapat dari dosa kecilku. Setelah itu, kuambil bola basket di atas tumpukan kardus, di dekat gudang, dan kumainkan sendiri di halaman rumahku yang cukup luas. Selang beberapa menit , lima orang temanku datang dan menghampiri. Mereka berjalan bergerombol seperti komplotan preman yang hendak menantang lawannya. Sesampainya dirumah, mereka mengajakku bermain basket, di lapangan dekat balai desa. Aku langsung mengiyakan, dengan senyum lebar seolah tak ada tanggungan dipikiranku. Seharian aku bermain bersama mereka hingga lelah dan pulang langsung tidur.

            Keesoka harinya,aku benar-benar membulatkan tekadku untuk mengerjakan tugas. Saat aku mulai melangkahkan kakiku ke depan meja komputer, dosa kecilku tiba-tiba berlari dari kejauhan menuju ke arahku.  Dia membawa surat yang berbunyi, “Untuk apa kamu terburu-buru melakukannya bukankah masih ada dua kali besok lusa untuk mengerjakannya”.

Sekali lagi, aku menganggukkan kepala seolah setuju dengan surat yang disampaikan oleh dosa kecilku. Entah kebetulan atau keberuntungan, tiba-tiba kutemukan sekeping kaset CD-R  di salah satu rak meja komputerku. Kuambil tisu, dan ku usapkan pada CD-R  itu, sembari berharap tidak ada virus dosa yang menempel didalamnya. Setelah terlihat bersih, langsung kumasukkan CD itu kedalam CPU. Aku lega, melihat informasi yang diberikan antivirus lokalku yang berbunyi “tidak ada virus terdeteksi”, lebih melegakan lagi, isi CD-R tidak memvisualisasikan virus dosa seperti intepretasiku diawal tadi.

Setelah kuteliti lebih lanjut, ternyata isi CD-R  itu adalah geme faforit kakak yang tertinggal beberapa hari yang lalu sebelum dia pulang ke Bali. Tidak ada salahnya jika aku juga mencoba memainkan game ini. Senyumku mengembang, aku mulai mencoba-coba memainkannya. Ternya menarik juga, game yang menjadikan pemainnya seolah seperti seorang agen handal yang menggenggam senjata AK-47  dikedua tangannya, dan dua buah geranat di saku celana, serta mengenakan penutup kepala agar tidak diketahui jatidirinya.

Lama aku terpaku mematung duduk didepan komputer, asyik memainkan jari-jemariku di keyboard, hingga waktu makan kurelakan terlewat begitu saja. Tak terasa, hari semakin gelap, aku semakin bosan bermain game ini, karena lawan yang dihadapi semakin banyak dan semakin sulit saja, lalu kuputuskan untuk makan sejenak. Sesaat setelah perutku kenyang, aku mencoba menaruh kepalaku di atas bantal kasurku, karena mataku lelah, aku langsung tertidur pulas.

            Hari cerah datang lagi, seolah pikiranku ikut cerah, aku kembali teringat akan tugasku. Kini kucoba mengerjakan, sebelum dosa kecilku datang. Tiba-tiba membersit dalam benakku, tentang tema yang akan aku angkat untuk laporanku. Sudah kuputuskan aku mengangkat tema Maharani.

Segera aku mengayunkan sepedah tuaku ke penjual kuota internetdi  depan rumah Pak R.T. Penjual di toko itu sangat muda dan cantik, rambutnya panjang dan hitam, selalu terurai saat kumenemuinya serta bibirnya yang tipis menambah cantik ronanya.Wajahnya putih bersinar,  aku tertarik pada suaranya, suara yang lemah lembut, yang menjadi ciri khas saat dia berbicara.

“Mau beli apa mas?” perkataan dari wanita itu, tiba-tiba memecah lamunanku pada dirinya.

Dengan segera kuucapkan padanya, bahwa aku ingin membeli salah satu kartu perdana, yang nantinya kugunakan pada modemku.  Transaksi berlangsung mulus, semulus tangnnya yang tidak terlalu kurus, dan kuayuh lagi sepedahku menuju gubuk rumahku. Sesampainya di rumah, langsung kuakses internet dengan modemku yang kenyang,  terisi hidangan pulsa. Anehnya, sesaat setelah aku mengakses internet dirumahku.

Dosa kecilku datang lagi, dia berkata “Bukalah sejenak Facebookmu!” dengan tanpa ragu dan rasa penasaran aku membukanya.

Banyak sekali pesan masuk dan pemberitahuan di Facebook ku, maklum sudah satu bulan aku tidak membukannya. Setelah berjam-jam membalas kotak masuk, dan saling mengomentaristatus teman-temanku, tiba-tiba hal yang tak kusangka muncul di pojok kanan bawah layar komputerku.  Mantyo, salah satu teman lamaku yang kini sukses bekerja di Trans.Corp sedang online dan menyapaku. Dia adalah sahabatku semasa SD hingga SMA. Aku lupa pada tugasku semula, dan dengan serunyaberbalas pesan dengan sahabatku itu hingga petang hari.  Mataku serasa lelah, dan aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan di Facebook, lalu menyuruhnya untuk menghubungi nomor Hpku dilain waktu.  Aku coba untuk tidur, kali ini aku tidak makan, karena memang rasa ngantuk menyuruhku segera tidur.

            Sehari berlalu lagi, kini pagi datang kembali, tapi cuaca tak secerah biasanya. Mendung serasa di pagi ini, tapi aku teringat akan tugasku yang tinggal besok lusa mengumpulkannya. Setelah menggunakan cara browsing yang ternyata mubazir, kini aku memutuskan menggunakan cara lain. Aku akan pergi ke Gua Maharani  itu sekarang juga. Kukemasi semua keperluanku, dan kutaruh di ransel berwarna merah milikku. Tak lupa, kubawa uang secukupnya dan bekal seperlunya, serta payung kecil guna mengantisipasi hujan. Aku berangkat ke sana sendirian.

Sesamapainya di sana, kucari informasi sebanyak mungkin. Aku bertanya pada penduduk dan pemandu wisata di sana, lagakku memang seperti seorang turis, tapi biarlah, aku memang sedang dikejar waktu. Cukup lama aku disana, setelah memperoleh banyak informasi, akupun pulang. Saat perjalanan pulang, air turun dari langit dengan derasnya, memandikan pohin-pohon yang kering dan membasuh rumput-rumput yang kehausan. Meski hujan turun dengan lebatnya, tetap kunahkodai motorku dengan cepat, laksana bajak laut menerpa badai. Sesampainya dirumah, tubuhku langsung kumanjakan dengan air hangat, dan kuisi perutku dengan semangkuk sup. Aneh rasanya, setelah aku bersiap untuk membuat laporan, badanku serasa meriang dan kepalaku serasa pusing, mungkin dampak dari air hujan tadi. Dosa-dosa kecilku sudah tidak menghampiriku lagi, karena telah luntur bersama hujan, tapi kini aku merasakan dampak dari semua ulahnya.

Keesokan harinya, tepatnya saat hari pengumpulan, aku pergi ke kantor dengan gontai, seolah tahu apa yang akan terjadi. Hari ini benar-benar cerah dan awan menggelayut hebat di hatiku.

            Kini semuyanya sudah berlalu, dan hanya satu  perkataan yang menyinggungku terucap dari mulut buaya bosku, dia berteriak padaku sembari bertanya demikian “Mana laporan tentang Gua Maharani yang kaujanjikan?  Apa  dirimu yang sakit ini laporannya? Ini bukan Gua Maharani! Tapi Mahananti!”

Penulis adalah Dosen Sastra Indonesia

Universitas Widya Mandala Madiun

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close