Magetan

Magenta, Komunitas Penghobi Gambar Aliran Abstrak

Sering Pindah Tempat Kumpul Karena Tak Punya Basecamp Tetap

Jika umumnya sebuah komunitas hanya terdiri atas satu bidang yang sama, Magenta tidak demikian. Mempunyai latar belakang yang berbeda-beda dalam seni tidak membuat mereka tak bisa bersatu. Justru perbedaan tersebut yang menyatukan seluruh anggotanya sekalipun mempunyai konsentrasi seni yang berbeda.

========================

FATIHAH IBNU FIQRI, Magetan, Jawa Pos Radar Magetan

SEPULUH orang remaja sedang duduk-duduk sambil berdiskusi dengan beralaskan tikar di sebuah homestay di Jalan Muria, Kelurahan Bulukerto, Minggu (3/11). Tangan mereka masing-masing ada yang memegang pensil warna dan spidol. Sementara, di depan mereka ada buku gambar dan sketsa dengan berbagai ukuran. Mereka sedang membuat sebuah karya doodle abstrak serta lukisan dengan menggunakan teknik pontilis.

Sejumlah anak muda dengan berbagai macam karakter seni itu tergabung dalam Komunitas Magetan. Saat itu, mereka sedang sharing sekaligus bertukar ide kreatif. Termasuk salah satunya membahas soal basecamp. Maklum selama ini mereka masih nomaden. ‘’Kadang kami kumpul di rumah salah satu anggot. Tapi, terkadar juga di Alun-Alun Magetan dan beberapa tempat lainnya,’’ kata Rio Wahyu Anggoro, dedengkot Komunitas Magetan.

Dia sebetulnya mahfum dengan status nomaden komunitasnya. Sebab, Magetan baru saja terbentuk lima bulan lalu. Meski demikian, jumlah anggotanya cukup lumayan. Ada sekitar 18 orang. Mayoritas adalah anak muda dengan berbagai latar belakang pendidikan. ‘’Sebelumnya saya sudah lama tergabung dalam Mageti Art. Tapi, beberapa anggotanya sudah tidak muda-muda lagi. Sehingga, banyak kesibukan dan jarang aktif di komunitas,’’ terangnya.

Dari situ kemudian Rio memutuskan untuk membentuk Magenta. Perjuangannya itu diawali dengan menawari beberapa temannya yang sudah dikenal untuk berkumpul lebih dahulu. Setelah itu dibuat kesepakatan membuat komunitas anyar yang mempunyai tujuan untuk menyalurkan ide kreatif di bidang seni. Khususnya doodle art. ‘’Tujuannya (pembentukan komunitas Magetan) supaya ada regenerasi di bidang seni di Magetan,’’ jelas pemuda asal Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan itu.

Beban moral itu yang kemudian dirasa Rio perlu di-goal-kan. Supaya dunia seni di Magetan tidak lantas mati. ‘’Karena mayoritas anggota kami adalah warga lokal, tentu kami berusaha untuk mengenalkan Magetan ke luar lewat seni,’’ ujar lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta tersebut.

Dia merasa prihatin kalau seniman asli Magetan justru berkarya di luar daerah. Sementara, karyanya sangat dibutuhkan untuk mengangkat citra Magetan di mata publik luar. Padahal, keberadaan mereka sebenarnya difasilitasi oleh pemkab. Seperti kelonggaran memanfaatkan Gedung Tripandita sebagai lokasi pameran. ‘’Sementara ini, saya masih terus berusaha menjaring anak-anak muda di Magetan untuk masuk komunitas dan berkreasi lewat seni,’’ pungkasnya. ****(her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button