Madiun

Madiun Muda Maknai Sumpah Pemuda

Terlecut Sumpah Pemuda 92 tahun silam, anak-anak muda merapatkan barisan mencetuskan Madiun Muda. Setahun terakhir, barisan pemuda ini konsisten memberikan sumbangsih pemikiran bagi kemajuan daerahnya.

…….

MADIUN MUDA terlahir dari kegelisahan bersama tentang minimnya keterlibatan anak muda dalam pembangunan daerah. Banyak hal penting yang dilewatkan generasi penerus bangsa selama ini. ‘’Masih jarang pemuda concern pada isu keterbukaan informasi, pendidikan, dan sosial,’’ kata Luthfi Aulia Rahman, salah seorang founder Madiun Muda.

Sudah saatnya barisan pemuda menuangkan gagasan dan mewujudkan cita-cita bersama. Tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, dan komunitas. Pemuda dari kalangan guru, dokter, akademisi, budayawan, pengusaha, sejarawan, seniman, dan sebagainya saling bertukar pikiran demi kemajuan kampung halaman. ‘’Anak-anak muda itu sejatinya produktif. Tapi, iklim saling mendukung belum terbangun dengan baik. Ini yang membuat anak-anak muda cenderung menjadi penonton di daerahnya sendiri,’’ ujar pemuda 25 tahun itu.

Dukungan dari pemerintah kota untuk memajukan anak muda menjadi poin penting. Meskipun wujud perhatian itu masih minim. ‘’Perhatian besar justru ditunjukkan Pemprov Jatim lewat East Java Super Corridor (EJSC),’’ terangnya.

Trisna Hanifan Hasan, pegiat komunitas Mlakua Ta, menyatakan sudah saatnya para pemuda bergerak. Memayu ing bantholo lumampah ing tirto. Menjaga tanah dan mengalir seperti air. Tiap pemuda harus bergandengan tangan memberikan kontribusi sesuai kecakapannya masing-masing. ‘’Kontribusi tidak harus sama. Berbeda-beda tapi tujuannya sama. Memajukan tanah kelahirannya,’’ ujarnya.

Lingga Wisnu Pratama, diaspora yang sempat berkuliah di China, mengingatkan besarnya peluang mengenyam pendidikan di luar negeri seperti dirinya. Kesempatan ini tak hanya diperuntukkan jenjang perguruan tinggi. Beasiswa SMA pun ada. Karena itu, Wisnu fokus mengumpulkan informasi beasiswa di setiap pameran pendidikan. ‘’Sayangnya di kota ini nyaris tak pernah ada education fair. Padahal peluang beasiswa ke luar negeri sekarang sangatlah besar,’’ ungkapnya.

Muhammad Fauzi, pemuda yang fokus industri kreatif Esports, mengajak kalangan sebayanya untuk memanfaatkan era industri 4.0. Hobi bermain game harus menjadi ladang pekerjaan yang menjanjikan seperti yang ditekuninya. ‘’Sekarang ini semuanya dituntut serbadigital. Tinggal bagaimana mengemasnya secara kreatif dan profesional,’’ tuturnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button