Ngawi

M. Hasan Zunairi Raih Dua Penghargaan MC Terbaik dari PSSI

Lebih Berat dari Wasit, Kelancaran Pertandingan di Tangannya

Kesungguhannya meniti karir sebagai match commissioner (MC) sepak bola berbuah manis. Dia berhasil mendapat dua penghargaan MC terbaik. Yaitu pada Elite Pro Academy Liga 1 U-16 dan Liga 3 Nasional 2019.

========================

LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos Radar Ngawi

M. Hasan Zunairi tak dapat menyembunyikan kegembiraannya setelah dinobatkan sebagai match commissioner (MC) terbaik Liga 3 2019. Sebuah penghargaan bergengsi untuk para pengawas pertandingan sepak bola digenggamnya. Raut wajahnya semringah, mengingat momen ketika PSSI menyerahkan award itu usai pertandingan final Liga 3 2019 di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu (29/12).

Laki-laki asli Ngawi kelahiran 24 Februari 1980 itu tidak menyangka mampu meraihnya. Kini dia jadi satu-satunya wong Ngawi yang pertama menorehkan prestasi tersebut. Apalagi sebelumnya Hasan juga diganjar MC terbaik pada Elite Pro Academy Liga 1 U-16 2019. ‘’Pasti sangat beryukur banget, karena bisa jadi MC di dua partai final pada tahun yang sama,’’ ucapnya.

Prestasi itu tidak datang begitu saja tanpa proses dan perjuangan panjang. Laki-laki yang kini menjabat sekretaris Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Ngawi itu sudah mulai menekuni karirnya sebagai pengawas pertandingan sejak 2016 silam. ‘’Sebelumnya saya jadi wasit sejak 2011 lalu. Memutuskan jadi MC 2017,’’ ungkapnya sembari menyebut sudah memiliki lisensi wasit C3.

Hasan juga harus magang sebagai asisten pengawas pertandingan pada 2016. Waktu itu pria yang kini menjabat kepala seksi (kasi) di Dinas Pertanian Ngawi tersebut bertugas memimpin pertandingan Persinga Ngawi. ‘’Jadi asisten dulu. Setelah satu tahun baru jadi MC. Itu pun masih memimpin pertandingan Persinga saat main kandang,’’ jelasnya.

Sama seperti wasit, pengawas pertandingan juga wajib bersertifikat atau lisensi. Untuk mendapatkannya harus melalui kursus. ‘’Kalau wasit sudah punya lisensi C3. Sekarang sudah memiliki sertifikat MC nasional,’’ ujarnya sembari menyebut tingkat di atasnya MC AFC dan MC FIFA.

Sertifikat MC nasional didapat sekitar dua tahun lalu. Setelah itu dia mulai sering ditugasi memimpin pertandingan skala nasional. Di antaranya partai final Elite Pro Academy Liga1 U-16, Liga1 U-18, Liga 3, dan Pra-PON sepak bola putri. Terakhir, Hasan memimpin dua partai final kompetisi resmi PSSI. ‘’Sekarang sudah tidak pernah jadi wasit, lebih sering jadi MC,’’ ungkap warga Jalan Rajawali 16, Beran, Ngawi, tersebut.

Hasan lebih nyaman jadi MC. Meski tugasnya lebih berat dari wasit. Wasit hanya bertugas 90 menit selama pertandingan berlangsung. Sedangkan MC mulai H-1 hingga H+1 pertandingan. Kelancaran pertandingan juga jadi tanggung jawab MC. ‘’Banyak tantangannya. Harus jeli dan koordinasi yang baik dengan panitia pelaksana. Apalagi jika ada potensi gesekan atau tensi pertandingan tinggi,’’ paparnya.

Namun, Hasan sanggup menjalankannya dengan baik walaupun harus berbagi waktu dengan kewajibannya sebagai aparatur sipil negara (ASN). Bagi Hasan, semua pekerjaan harus dijalani sebaik mungkin agar hasilnya tidak mengecewakan. ‘’Tidak ada masalah (kewajiban ASN), karena pertandingan sepak bola biasanya digelar Sabtu atau Minggu,’’ jelasnya.*** (sat/c1) 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button