Madiun

Luas Lahan Berkurang, Hasil Produksi Cengkih Menurun

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Murahnya harga cengkih di Kabupaten Madiun adalah lagu lama. Dinas pertanian dan perikanan (disperta) setempat menyebut rendahnya harga jual terjadi dalam dua tahun terakhir. Antiklimaks dengan sedikitnya hasil produksi komoditas tersebut. ‘’Produksi turun, tapi harga juga ikut turun. Di situ anehnya,’’ kata Kabid Perkebunan Disperta Kabupaten Madiun Muhammad Yasin Minggu (12/7).

Yasin menjelaskan, ketika barang menipis, maka kecenderungan harganya semakin mahal. Namun, prinsip ekonomi itu tidak berlaku terhadap harga cengkih. Banyak petani cengkih yang mengeluh kepadanya. Penurunan harga terjadi bersaman kuantitas produksi yang terus merosot. ‘’Kami sarankan untuk disimpan lebih dulu. Karena semakin lama, kualitasnya juga semakin bagus,’’ ujarnya.

Harga cengkih kering saat ini di kisaran Rp 57 ribu per kilogram. Anjlok dari harga normal yang bisa menyentuh Rp 75 ribu per kilogram. Komoditas cengkih kian “merintih” karena luasan lahan tersisa 1.795 hektare.

Terjadi pengurangan hingga 40 persen dalam lima tahun terakhir. Penyebabnya, serangan bakteri pembuluh kayu cengkih (BPKC). ‘’Jumlah produksi menurun karena serangan BPKC. Pohon cengkih yang mengering, lama-kelamaan mati. Biar tidak menular harus ditebang,’’ beber Yasin sembari menyebut perkebunan cengkih paling luas di wilayah utara.

Dia menyebut, rata-rata produksi cengkih 198 kilogram per hektare per tahun. Atau 355 ton dari seluruh luas perkebunan dalam setahun. Menyusutnya hasil produksi, kata dia, semestinya dapat mendongkrak harga cengkih di pasaran. Namun, kenyataan di lapangan malah sebaliknya. ‘’Kami akan segera berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait lain mengenai persoalan ini,’’ ujarnya. (den/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button