Opini

Longgar tapi Jangan Kebablasan

SEPEKAN terakhir, kita menjalankan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro yang ketiga. PPKM ini dijadwalkan hingga 22 Maret nanti. Jika ditotal ini sudah PPKM kelima sejak Januari lalu. Selalu diperpanjang. Kota kita selalu kena perpanjangan. Namun, memang hasilnya cukup signifikan. Dari 1.025 RT di Kota Madiun, hanya sekitar 30 di antaranya yang masih berzona kuning. Sisanya sudah hijau. PPKM tidak masalah diperpanjang asal membawa dampak yang signifikan. RT yang masih kuning biar segera hijau. Sedangkan yang sudah hijau jangan sampai berubah warna.

PPKM mikro yang ketiga ini harus lebih serius. Karenanya, kita juga menggelar apel kesiapan pasukan. Setidaknya 600 personel gabungan kita siapkan. Mengapa butuh tambahan personel? Ya karena ada berbagai kelonggaran dalam PPKM kali ini. Lebih longgar dari yang sebelumnya. Kegiatan masyarakat dan perdagangan nonmodern kita buka sampai pukul 23.00. Untuk mal memang masih sampai pukul 21.00. Perlakuannya memang berbeda. PKL memang boleh sampai jam sebelas malam. Saat ini masih musim penghujan. Kasihan kalau hujan baru reda, tapi kemudian sudah harus diminta tutup.

Kalau sampai jam sebelas semoga jualannya sudah laku. Sedangkan, mal tentu tidak terkendala hujan. Artinya, masih bisa optimal sedari sore. Kegiatan di masyarakat yang semakin larut ini tentu butuh pengamanan. Belum lagi, tempat hiburan malam (THM) yang juga boleh beroperasi. THM diperbolehkan buka mulai pukul 15.00 sampai 23.00 dengan maksimal 30 persen dari kapasitas tempat. Selain itu, tetap dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Lagi-lagi, ini juga butuh pengawasan petugas.

Resepsi pernikahan juga diperbolehkan dengan maksimal undangan 50 orang per sif. Itu bisa dilaksanakan maksimal tiga sif. Sebelumnya memang juga sudah diperbolehkan. Tapi maksimal hanya 30 orang per sifnya. Jika sekarang bisa 50 orang, artinya tuan rumah bisa mengundang 150 orang dengan dibagi tiga sif saat resepsi. Namun, untuk hidangan tetap sama dengan tidak diperbolehkan sistem prasmanan. Selain itu, protokol kesehatan tidak boleh ditinggalkan.

Ada banyak kelonggaran dalam PPKM kali ini. Itu bisa dilihat di Instruksi Wali Kota Madiun 6/2021. Karenanya, butuh tambahan personel tadi. Belum lagi kegiatan organisasi juga diperbolehkan. Seperti Parapatan Luhur PSHT Sabtu kemarin (13/3). Kegiatan berlangsung aman, lancar, dan sehat. Sebab, kegiatan tak meninggalkan protokol kesehatan. Peserta tidak harus datang di padepokan. Hanya segelintir yang mengikuti secara langsung di lokasi. Lainnya mengikuti secara virtual. Penerapan protokol kesehatan pada kegiatan itu bisa ditiru. Saya memang memperlonggar kegiatan. Namun, protokol kesehatan tidak boleh ditawar.

Termasuk pemadaman lampu penerangan jalan umum. Saat ini memang kembali dihidupkan seperti semula. Tidak ada pemadaman seperti PPKM lalu. Namun, kalau masyarakat tidak tertib, ya terpaksa pemadaman diberlakukan lagi. Saya ingin masyarakat juga memiliki rasa tanggung jawab. Pemerintah pastinya memahami keinginan masyarakat. Tetapi masyarakat juga harus dapat memahami keinginan pemerintah. Ini semua demi kebaikan bersama. Saya ingatkan jangan sampai kebablasan. Kalau kasus meningkat, terpaksa pembatasan kembali diperketat.

Kasus konfirmasi memang tercatat menurun belakangan. Paling tidak di empat hari terakhir penambahan kasus konfirmasi tidak lebih dari sepuluh kasus setiap harinya. Sebaliknya, kasus sembuh cukup tinggi. Saya ingin tren positif ini terus terjaga. Kalau bisa kasus konfirmasi tidak bertambah lagi. Ini tak mungkin bisa terwujud tanpa peran kita bersama. Ya, masalah Covid-19 memang masalah kita semua. Kita juga masih dalam masa PPKM berbasis mikro. Jangan terlena biarpun ada sejumlah kelonggaran. Ingat, ada personel yang terus memeriksa. Mari kita tertib dan disiplin agar pandemi ini segera berakhir.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button