Madiun

Liku Perjalanan Karir Perupa Basuki Ratna Kurniawan

Pulang Kampung demi Penuhi Janji Jadi Guru

Basuki Ratna Kurniawan tak pernah menyesali keputusannya pulang kampung dari Bali meski berhasil meraih sukses sebagai perupa selama di Pulau Dewata. Dia tetap bisa berkarya di Madiun. Bahkan, karyanya baru saja menjadi yang terbaik dalam pameran Biennale Jatim 8.

___________________________________

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos, Radar Madiun

BELASAN orang tampak berdesakan sembari mengusung beberapa ekor ikan. Beberapa di antaranya harus diangkat sejumlah orang sekaligus. Jangan salah. Belasan orang mengusung ikan itu hanyalah objek lukisan berjudul Berkah Laut karya Basuki Ratna Kurniawan.

Karya yang dilukis di kanvas berukuran 150×200 sentimeter itu baru saja meraih predikat bergengsi sebuah ajang pameran seni rupa tingkat provinsi. ”Alhamdulillah terpilih jadi salah satu lukisan terbaik pada pameran Biennale Jatim 8,” ucap Basuki.

Guru seni rupa SMPN I Saradan, Kabupaten Madiun, itu melukis Berkah Laut terinspirasi saat berkunjung ke sebuah pantai akhir tahun lalu. Kala itu dia melihat sejumlah nelayan yang pulang melaut. ”Walaupun tangkapan jauh lebih sedikit dari nelayan modern, ekspresi kebahagiaan tetap terlihat di wajah mereka,” ujarnya.

Basuki akrab dengan peranti melukis sejak kecil. Awalnya dia belajar dari kakak iparnya yang juga seorang perupa. Bakatnya semakin terasah sejak kuliah di jurusan seni rupa Universitas Negeri Surabaya (dulu IKIP Surabaya) pada 1992 silam. ”Sejak itu saya semakin yakin seni rupa adalah duniaku,” ucap pria 46 tahun ini.

Keyakinan warga Perumahan Mojopurno, Wungu, Kabupaten Madiun, itu semakin menebal setelah mendapat nasihat dari ayahnya sehari sebelum sang ayah pergi untuk selamanya. Basuki yang kala itu tengah mengerjakan tugas akhir semakin termotivasi untuk serius melukis.

Hanya dalam waktu dua bulan Basuki menghasilkan lima karya. Tidak lama berselang, kelima lukisan itu diborong seorang kolektor Surabaya saat dipamerkan. ”Waktu itu tahun 1997. Kelima lukisan saya dibeli Rp 4 juta. Waktu itu uang segitu nilainya cukup tinggi,” sebut pelukis bergaya ekspresionis dekoratif ini.

Lulus kuliah pada 1997 Basuki merasa ilmunya belum mumpuni. Karena itu, dia sengaja belajar seni lukis ke Bali sembari terus berkarya pada 1999. Tak butuh waktu lama, tiga tahun berselang dia mampu menyewa ruko untuk dijadikan studio lukis di Sanggingan, Ubud.

Tak disangka lukisannya laris manis. Bahkan, pembelinya mayoritas para pemburu lukisan dari mancanegara seperti Denmark, Amerika Serikat, dan Jerman. Tak tangung-tanggung, satu lukisan bisa laku hingga belasan juta rupiah. ”Bahkan saya pernah diajak pameran tunggal di Denmark secara gratis, tapi saya tolak,” kenangnya.

Namun, peristiwa bom Bali I pada akhir 2002 berdampak pada studionya. Pembeli yang kebanyakan turis luar negeri buru-buru meninggalkan Indonesia. Pun, calon wisatawan asing enggan datang. ”Kondisi baru mulai pulih pada 2004,” tuturnya.

Setahun berselang Basuki memutuskan pulang kampung. Itu untuk memenuhi janjinya pada mendiang ayah dan ibunya menjadi guru. Rekrutmen CPNS 14 tahun silam mengantarnya menjadi seorang pengajar SMPN I Saradan. “Walaupun sudah jadi guru, kegiatan melukis masih terus berjalan,” ujarnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close