Madiun

Lia Puspitasari dan Ratusan Perangko Lawasnya

TAK PUNYA LAWAN BERAT BERKIRIM SURAT

Meski kebiasaan berkirim surat telah ditelan kecanggihan teknologi, perangko yang menjadi bagian penting komunikasi itu masih menjadi atensi Lia Puspitasari. Kertas mungil bergambar itu menjadi mesin waktu mengenang sebuah momen atau peristiwa.

==============================

ANDI CHORNIAWAN, Madiun, Radar Caruban

RATUSAN lembar perangko dalam stamp album hitam itu masih utuh. Terselip di dalam plastik tanpa terlihat ada tanda robek atau bekas lipatan. Meski 32 halamannya tidak terisi penuh, kertas berperekat sebagai bukti pembayaran jasa layanan pos itu tertata rapi dengan menyisakan ruang jarak tertentu. Bagian atas beberapa lembar halamannya tertuliskan nama negara tanda asal perangko. ‘’Total koleksi 300 lembar lebih,’’ sebut Lia Puspitasari, filatelis asal Sidorejo, Kebonsari, Kabupaten Madiun.

Sejak 2000 silam, Lia mengumpulkan perangko dari lima negara berbeda. Selain Indonesia, juga dari Malaysia, Brunei Darussalam, Hong Kong, dan Tiongkok. Meski kala itu masih madrasah ibtidaiyah, dia telaten menyimpan kepingan perangko dari surat saudaranya yang menjadi pekerja migran. Untuk perangko lokal dikoleksi dari kiriman surat sahabat penanya. Dari Jakarta sampai Medan, Sumatera Utara. ‘’Waktu itu belum kepikiran apa itu filatelis. Suka mengumpulkan perangko saja,’’ beber perempuan 30 tahun itu.

Hobi mengumpulkan perangko terus berjalan sampai kini telah dikaruniai tiga anak. Ratusan perangko koleksinya tidak ada satupun dari hasil membeli. Selain pemberian dari kawan-kawannya, perangko tambahan didapatkan dari sahabat penanya. Kebiasaan bersurat masih dilakukan sekadar untuk bernostalgia. Dia pun tidak tertarik menambah koleksi lewat jejaring media sosial (medsos). Meski diakuinya berburu perangko semakin sulit. Sebab budaya berkirim surat tergerus perkembangan zaman. Selain tidak punya waktu dan lawan bersurat kelas berat alias masih intens berkirim layang sampai kini. ‘’Koleksi itu yang bagus mengumpulkan serinya. Otomatis saya harus menunggu dan mencari-cari yang juga membutuhkan waktu,’’ paparnya seraya menyebut waktunya habis untuk bekerja dan merawat anak.

Asyiknya menjadi filatelis di mata Lia adalah mengenang sejarah. Memorinya seolah kembali pada momen atau peristiwa periode tertentu. Umumnya, gambar perangko menceritakan kebijakan pemimpin negara, kegiatan, atau lainnya. Seperti pembangunan lima tahun (Pelita) di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Istri Dahlan Effendi itu mengoleksi tiga dari tujuh kabinet pembangunan. Misalnya, Pelita IV tentang swasembada pangan pada 1986. Harga perangko yang digambarkan petani menggarap sawah itu Rp 500. Juga Pelita V dengan jargon: memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Harga perangko keluaran 1993 tersebut Rp 1.000. Selain kebijakan, ada perangko edisi Pekan Olahraga Nasional (PON) XV Jawa Timur 2000 silam. ‘’Ada dua perangko bergambar cabor lompat tinggi dan kanopi,’’ ungkap Lia.

Pada 2007 album perangko Lia sempat hilang. Stamp album itu diketahui raib ketika hendak memasukkan perangko anyar. Upaya melakukan pencarian bersama suaminya tak membuahkan hasil. Setahun kemudian, album perangko itu ditemukan bercampur dengan mainan anak di dalam gudang. ‘’Saya sampai nangis saat itu,’’ ujarnya menegaskan betapa susahnya mengumpulkan kenangan lewat perangko.

Ketika luang, Lia mengeluarkan kepingan perangko dari stamp album. Tujuannya menjaga kelembaban ruang di dalam plastiknya. Beberapa perangko yang dibungkus plastik khusus juga diganti. ‘’Tidak semua. Yang langka dan favorit saja,’’ tandasnya. *** (fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close