PacitanPendidikan

Lewati Medan Terjal, Tetap Mengajar meski Tak Dapat Bayar

Pandemi korona telah menjerat sektor pendidikan. Proses pembelajaran tatap muka terpaksa ditiadakan. Sistem itu diganti dalam jaringan (daring). Kondisi tersebut tentu menguji komitmen guru. Sebab, mereka harus bekerja ekstra untuk memastikan muridnya tetap belajar. Apalagi, bagi guru di sekolah pinggiran yang sulit jaringan internet.

————

ASPAL berlubang di Desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, diterjang Agus Fitrianto dengan sepeda motor bebeknya. Pagi itu (29/7) dia ada agenda mendatangi rumah siswanya.

Perjalanan sejauh dua kilometer ditempuh Agus dari SDN Ponggok menuju sebuah rumah yang berada di pinggiran desa tersebut. ‘’Hampir setiap hari seperti ini,’’ kata alumnus UNS tersebut.

Baginya, kunjungan rumah atau home visit itu merupakan sebuah perjuangan. Karena tidak semua siswanya dapat menerima pembelajaran secara online seperti yang diamanatkan pemerintah menyikapi pandemi Covid-19. Beberapa peserta didiknya yang tinggal di pelosok kesulitan sinyal. Pun tidak semua punya gadget untuk mendukung pembelajaran.

Karena sejumlah persoalan tersebut, Agus memutuskan melakukan home visit. ‘’Setidaknya proses pembelajaran tetap terlaksana,’’ ujar pria 39 tahun itu.

Agus merasa beruntung kedatangannya ke rumah siswa selalu disambut semringah. Bahkan, dirinya selalu mendapat sajian makanan dari para orang tua wali. ‘’Tapi, susahnya home visit itu terbatas dengan waktu. Karena kami hanya melakukan kunjungan sekitar tiga hari. Sehingga, harus kami manage sebaik mungkin,’’ terang Agus yang masih berstatus guru non-PNS tersebut.

Di luar aktivitasnya sebagai pengajar, Agus adalah seorang kepala rumah tangga. Dia juga mempunyai pekerjaan sampingan membuat batu bata merah demi mencukupi kebutuhan ekonomi. (gen/c1/her)

Tetap Mengajar meski Tak Dapat Bayar

PANDEMI korona menjadi pukulan telak bagi para guru honorer. Kondisi perekonomian mereka seret lantaran tidak mendapat penghasilan. Persoalan itu salah satunya dihadapi oleh Vita Sefduana. Guru honorer di PAUD Al-Falah, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, itu mengeluhkan honor mengajarnya yang tersendat karena pandemi Covid-19.

Selama ini dia bersama guru lain memang tetap mengajar. Namun, dengan sistem dalam jaringan (daring). Hanya saja, tidak semua orang tua murid membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) seperti saat pembelajaran tatap muka berlangsung. ‘’Selama ini tidak ada penghasilan. Tapi, kalau mengajar masih tetap jalan dengan memberikan penugasan, minimal seminggu sekali diambil nilainya,’’ kata Vita Rabu (29/7).

Alokasi bantuan operasional penyelenggaraan (BOP) yang diperoleh lembaganya memang sedikit membantu. Namun, penggunaannya hanya diperuntukkan menjalankan kegiatan pendidikan. ‘’Nah, itu nanti dananya dibagi (kegiatan). Semisal ada sisa, dianggarkan untuk honor para guru. Rata-rata sekitar Rp 150 ribu–Rp 200 ribu, dan untuk alokasi paket data kegiatan belajar mengajar (KBM). Kalau memang masih ada (sisa dana),’’ jelasnya.

Selama ini, mayoritas guru honorer PAUD penghasilannya bergantung pada pemasukan SPP siswa. ‘’Jadi, kalau tidak ada yang membayar SPP, ya tidak dapat penghasilan,’’ ungkapnya. (mg2/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close