features

Lewat Tulisan, Nama Aziz Mushoffa Bergema hingga Australia

Namanya sudah terbilang mendunia. Setidaknya, buku karya Aziz Mushoffa telah menghiasi rak perpustakaan Australia dan Malaysia. Meski begitu, Aziz merasa masih perlu mengasah lagi kemampuannya menulis.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

MENULIS sudah dilakoni Aziz Mushoffa sejak duduk di bangku SMP. Memasuki jenjang perguruan tinggi, tepatnya Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Aziz semakin intens menulis. Buku karya dua penulis favoritnya -Nurcholish Madjid dan Emha Ainun Nadjib- membuat kecintaannya dengan dunia literasi semakin tak terbendung.

Kepercayaan dirinya menulis bertambah setelah karyanya dimuat majalah kampus. Pun, sejak itu dia semakin produktif menuangkan ide dalam sebuah tulisan. Pada 1998 Aziz memberanikan diri menulis buku untuk diterbitkan. Namun, berbagai penerbit menolaknya.

Kendati demikian, Aziz tidak lantas patah semangat. Sebaliknya, dia berusaha mencari letak kekurangannya, lalu merevisinya. Akhirnya upayanya berhasil. Tulisannya naik cetak. Kini dia sudah menghasilkan puluhan buku. Sebanyak 17 di antaranya telah mengantongi international standard book number (ISBN). ‘’Saat ini ada dua yang dalam proses penerbitan,’’ tuturnya.

Beberapa buku karyanya yang telah diterbitkan di antaranya berjudul Kloning Manusia Abad XXI: Antara Harapan, Tantangan, dan Pertentangan. Kiprah Islam: Essai-Essai Kritis tentang Islam, Politik, dan Demokrasi, Untaian Mutiara buat Keluarga, serta serial Kisah-Kisah Teladan buat Anakku. Selain itu, ada buku karyanya yang masuk perpustakaan Australia dan Malaysia serta menjadi referensi internasional.

Aziz juga aktif menulis di berbagai surat kabar serta majalah yang dikelola Kanwil Kemenag Jatim. Selain itu, aktif mengisi tulisan di website pribadinya. ‘’Ngisi website pribadi minimal sebulan sekali,’’ ujarnya sembari menyebut tulisan karyanya mayoritas mengangkat isu pendidikan dan parenting.

Guru MIN 1 Kota Madiun itu masih ingat betul dulu saat masih kuliah di Surabaya kerap datang ke gedung Graha Pena minta diajari wartawan Jawa Pos. Sekaligus pinjam komputer untuk menulis. ‘’Kalau nggak gitu menulisnya pakai mesin ketik,’’ kenangnya.

Pengalaman menggelitik dialami Aziz saat dirinya masih berstatus mahasiswa. Kala itu dia menulis menggunakan kertas HVS bekas pakai, memanfaatkan sisa bagian belakang lembaran yang kosong. Nah, saat ibu kosnya sedang bersih-bersih mengiranya kertas tidak terpakai, lantas dijual ke pengepul barang bekas. ‘’Ya terpaksa menulis ulang. Padahal, sudah dapat dua bab,’’ sebutnya. ‘’Sempat mogok sampai sebulan,’’ imbuhnya.

Selama ini Aziz menyelesaikan sebuah buku paling cepat durasi dua minggu dan maksimal enam bulan. ‘’Walaupun sudah menghasilkan buku cukup banyak, saya sampai sekarang masih terus belajar,’’ ucapnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button