Madiun

Lewat Optimistic Project, Fadilatul Muzayyanah dkk Peduli Pasien Kanker

Di zaman modern ini ternyata masih ada orang yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Fadilatul Muzayyanah dan sejumlah relawan di Optimistic Project, misalnya. Mereka ikut mengupayakan kesembuhan pasien kanker anak dari aspek psikologis.

——————-

OPTIMISTIC Project dibentuk pada 2017 lalu. Bermula dari rutinitas Fadilatul Muzayyanah saat menjalankan pendidikan profesi di sebuah puskesmas di Malang. Di layanan kesehatan itu dia berkenalan dengan Rama, seorang pasien leukemia (kanker darah).

Singkat cerita, pada suatu saat Rama datang dengan kondisi lemah dan tiba-tiba kejang. ‘’Orang tuanya panik, seperti sudah tidak ada harapan untuk hidup. Ketika Rama buka mata, kedua orang tuanya pun tersenyum senang,’’ kenang Dila, sapaan akrab Fadilatul Muzayyanah.

Dari situlah Dila berniat memberikan hadiah kepada Rama. Dia lantas teringat Ratna, salah seorang aktivis sosial kenalannya di Jakarta yang memproduksi barang kerajinan karya tunarungu. ‘’Akhirnya saya pesan boneka  ke Kak Ratna,’’ kata warga Ketawang, Dolopo, Kabupaten Madiun, ini.

Dila  lalu menyodorkan desain boneka yang diberi nama Hero itu. Hero laki-laki memiliki layer di bagian punggung. Sedangkan yang perempuan mengenakan rok. ‘’Modelnya lucu dan mudah dipeluk,’’ ujarnya sembari menyebut kala itu per boneka dibanderol Rp 65.000, sudah termasuk ongkos kirim.

Menggandeng sebuah komunitas, boneka itu dibagi-bagikan kepada pasien kanker sebuah rumah sakit di Malang. Sampai saat ini sudah sekitar 70 boneka yang didonasikan.

Saat berlibur ke Jogjakarta Januari lalu, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu sempat mengunjungi rumah singgah pasien kanker anak di daerah setempat. Akhirnya muncul niatnya menggandeng relawan untuk acara bagi-bagi boneka.

Namun, dari estimasi kebutuhan hanya 10 orang, yang mendaftar ternyata mencapai puluhan. Mayoritas adalah mahasiswa berbagai daerah yang sedang kuliah di Kota Gudeg. ‘’Akhirnya saya seleksi hingga menjadi 21 orang,’’ paparnya.

Di saat bersamaan, kabar duka datang. Ayahnya berpulang. Bungsu dari tiga bersaudara itu pun membatalkan tiket kereta api ke Jogjakarta. Agar acara tetap jalan, Dila menunjuk leader baru yang mengorganisasi kegiatan sosial itu.  ‘’Komunikasinya ya jarak jauh, alhamdulillah berjalan lancar,’’ ucapnya.

Saat ini Dila sedang menyiapkan rekrutmen relawan di Madiun. Rencananya, mereka diperbantukan sebagai pengurus inti Optimistic Project. Harapannya membantu memudahkan proses koordinasi segala acara.

Dila meyakini gerakan sosial yang dirintisnya membantu proses penyembuhan pasien dari aspek psikologis. Jika hati penderita senang, tubuhnya mengeluarkan hormon serotin yang mampu mengurangi rasa sakit.

Lantaran memperhatikan betul aspek psikologis anak, Dila dkk pantang menangis saat menjenguk pasien kanker anak. ‘’Karena mereka dasarnya nggak  tahu kalau sedang menderita sakit berat. Makanya, meskipun sakit berat, tetap tertawa riang,’’ tuturnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close