features

Lewat Kaligrafi, Nama Suyanto Dikenal hingga Luar Pulau

Kaligrafi karya Suyanto sudah menghiasi ratusan masjid dan musala di Kota Madiun. Tidak sedikit pula yang dibeli untuk hiasan rumah warga dari berbagai daerah di tanah air. Apa keistimewaannya?

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

BEGITU pintu rumah terbuka, dari jarak tiga meter terlihat kaligrafi Surah Al-Fatihah menempel di dinding galeri milik Suyanto. Dengan dasar cokelat, lafal ayat Alquran warna keemasan itu terbaca cukup jelas. Namun, saat didekati tampilannya menjadi tiga dimensi (3D).

Suyanto aktif menulis kaligrafi sejak masih duduk di bangku madrasah tsanawiyah di era 1985-an. Untuk mengasah kemampuannya, pria itu mempelajari dari buku-buku tentang seni kaligrafi. ‘’Setelah melukis saya sodorkan ke ustad di pondok agar diberi masukan. Sampai sekarang masih begitu,’’ katanya.

Berkat ketekunannya, kaligrafi karya Suyanto laris manis. Peminatnya mulai warga wilayah Madiun Raya, Bogor, Jakarta, hingga Sumatera Selatan. ‘’Kebanyakan tahunya dari mulut ke mulut. Saya jarang menawarkan lewat media sosial,’’ sebut warga Jalan Urip Sumoharjo, Manguharjo, itu.

Khusus di Kota Madiun, kaligrafi karya pria kelahiran 1965 itu sudah menghiasi sedikitnya 204 masjid dan musala. Belum termasuk yang menghiasi miniatur Kakbah di Sumber Umis serta pajangan dinding rumah warga. ‘’Waktu pengerjaannya bervariasi. Yang Kakbah itu dua minggu,’’ ungkapnya.

Untuk pembeli lokal, pesanan mayoritas masuk lewat telepon. Sebelum dieksekusi, suami Imroatul Muthoharoh itu datang ke lokasi sekaligus melakukan pengukuran. ‘’Untuk masjid dan musala, bagian imaman (mihrab, Red) saya foto. Kemudian, saya buat rancangan kaligrafi di rumah. Kalau sudah jadi, dikomunikasikan ke pemesan, cocok atau tidak,’’ terangnya.

Selama ini, jenis kaligrafi karya Suyanto untuk hiasan masjid didominasi kalimat syahadat dan nama masjid setempat. Sedangkan pesanan perorangan untuk dipajang di ruang tamu kebanyakan Surah Nuh 28. Sebagian lagi Al Furqon.

Bapak tiga anak yang dulu kerap didapuk juri lomba kaligrafi itu pernah dalam satu bulan mendapat pesanan dari lima masjid. Bahkan, saat Ramadan bisa meningkat menjadi dua kali lipatnya. ‘’Kalau sedang tidak ada pesanan tetap bikin. Ya, sebisa mungkin tetap produktif,’’ tuturnya.

Ada beberapa ’’senjata’’ yang biasa digunakan Suyanto untuk membuat kaligrafi. Di antaranya, handam, tinta celup, spidol khot, tripleks, cat, stirofoam, dan glitter. ‘’Saat bikin saya usahakan dalam kondisi suci. Jadi, wudu dulu,’’ ungkapnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button