MadiunSport

Lewat Attila, Kota Sabet Piala Di Kelas Men Youth ECC Criterium Championship 2020

BOGOR, Jawa Pos Radar Madiun – Di antara jepitan puluhan cyclist nasional, Kota Madiun mampu mencuri medali. Dari tangan Attila Bintang Lazuardi, satu medali perunggu didapat saat event ECC (Education Cycling Center) Criterium Championship 2020 di venue Stadion Pakansari, Bogor, pekan lalu. Pelajar kelas X SMA Negeri 2 Kota Madiun itu menduduki posisi III di kelas men youth criterium.

“Alhamdulillah. Tidak sia-sia latihan dan minta dispensasi ke sekolah untuk ikut kejuaraan nasional ini. Terima kasih sekolahku dan terima kasih pelatihku coach Ferinanto,” kata Attila kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Attila menjelaskan, sebelum turun lomba, gemblengan pelatih merupakan kuncinya. Hampir tiap hari, latihan endurance dan sprint digenjot pelatih Ferinanto. Modifikasi dan menu –yang tiap hari dilahap para cyclist– selalu update. Maklum, lawan-lawannya juga tidak kaleng-kaleng. Cyclist dari Jakarta, Bandung, Solo, dan Wonogiri merupakan lawan yang tidak enteng. Apalagi, event ini merupakan lomba yang masuk kalender resmi ISSI Pusat. ”Ngeper pasti. Karena sepeda mereka sangat siap untuk bertanding. Sedang kita pakai sepeda seadanya. Yang penting dicoba dulu. Dan alhamdulillah, akhirnya bisa finis nomor tiga,” kata Attila dengan senyum semringah.

Untuk bisa ikut event ini, memang bukan perkara mudah bagi Attila. Menurutnya, modalnya bonek. Tidak punya sangu. Tidak punya sponsor. Bawa sepeda seadanya. Tapi, niat untuk membawa nama harum Kota Madiun-lah yang membangkitkan semangat tiga cyclist pelajar ini. Selain Attila, ada Naufal Farhan Murtadlo, pelajar kelas VII SMPN 13 Kota Madiun, dan Danilo Amika, pelajar kelas IX SMPN 8 Kota Madiun. Sayang, dua nama terakhir ini spesialis tanjakan. Jadi, saat diadu di jalan flat, putaran kakinya kalah cepat dengan lawan-lawannya.

Jalannya lomba sendiri, kata Attila, superseru. Selain persaingan dengan cyclist lainnya cukup ketat, venue yang dipakai lomba juga cukup “ngeri”. Lha, kok ngeri? Emangnya hantu kok pakai ngeri segala? Usut punya usut, sejak pagi hingga sore, venue yang dipakai lomba balap sepeda diguyur hujan. Maklum, Bogor kan terkenal dengan sebutan Kota Hujan. Ditambah lagi dengan sekarang musim penghujan. ”Komplet sudah. Jalannya harus ekstrahati-hati. Ngegasnya kebanteren, bisa-bisa terpeleset saat balapan,” ucap Attila tertawa.

Untuk keluar sebagai juara, cyclist yang turun di kelas men youth harus melahap 4 lap. Kalau dikilometerkan jaraknya nyaris 10 kilometer. Meski cuma 10 kilometer, kata Attila, nyatanya persaingan sangat ketat. Dan, sebanyak 22 cyclist turun bertanding di kelas ini. Basahnya trek balapan membuat seluruh pembalap takut menggeber kecepatannya. Kata Attila, semua cyclist memilih main safe. Di tiga lap awal, semua masih nggrembel. Begitu memasuki lap terakhir, beberapa di antaranya mulai berani memisahkan diri. Attila sendiri berusaha menempel saja. Maklum, tidak hafal dengan trek yang ada. Di pengujung pertandingan, cyclist berkacamata minus itu mampu meraih juara III.

Pelatih Ferinanto mengaku puas dengan hasil yang diraih anak didiknya. Menurutnya, berangkat dengan modal nekat adalah kuncinya. ”Kalau belum-belum kita mengeluh karena finansial tidak ada, kapan kita maju? Yang penting dilakoni dulu. Meski harus nggandol bus,” kata pelatih peraih medali emas SEA Games Manila itu dengan wajah kalem.

Sepulang dari Bogor, Feri akan terus memaksimalkan latihan anak didiknya. Sebab, event-event sepeda sudah banyak jadwalnya di depan mata. Di antaranya, Porprov dan Bromo 100 KM. Lain dari itu, Feri juga mengacungkan jempol kepada anak didiknya. Dengan dana superminim ternyata mereka mau diajak loro lopo. ”Bisa podium di antara para raksasa Jakarta dan Bandung, ini patut disyukuri. Saya juga minta anak-anak tidak langsung berpuas diri. Masih panjang jalan yang harus dilalui,” ujar Feri.

Yang patut diacungi jempol, support dari Ketua KONI Tatok Raya juga tidak setengah kopling. Untuk menggembleng kekuatan kaki para cyclist, Tatok membelikan alat roller baru sebanyak lima buah. Tidak itu saja. Dua buah ergo statis baru juga digunakan untuk memvariasikan latihan. Seluruh alat yang disediakan Tatok berbuah manis. Tiga cyclist pelajar Madiun yang diturunkan di Bogor ini mampu berbicara. ”Atas prestasi ini, semoga Kota Madiun diperhitungkan kembali. Tidak lama lagi akan lahir Ferinanto-Ferinanto baru,” ucap Tatok yang berpenampilan flamboyan. (asd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button