Bupati Menulis

Level 4 Berdua

KAGET juga Kabupaten Magetan masuk level 4, berdua bersama Ponorogo. Bayangkan, dari seluruh kabupaten/kota se-Jawa dan Bali, periode PPKM 6-13 September 2021. Kagetnya saya, kok hanya berdua. Kabupaten lain sudah masuk level 3 dan 2. Tentu banyak hal yang menyebabkan mengapa Magetan masuk level 4.

Ketika kabupaten sekitar level 4, Magetan sendiri yang level 3. Itulah virus. Penularannya dari kontak yang disebabkan karena mobilitas. Pemerintah tidak mungkin melakukan lockdown. Akibat yang ditimbulkan ganda. Selain korban Covid-19, juga ekonomi. Tentu jalan tengah yang paling baik.

Karena Magetan, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Pacitan, dan Karanganyar adalah aglomerasi, maka dapat diibaratkan seperti balon yang saling terhubung. Bila satu balon ditekan, maka akan menyebabkan yang lain mengembang. Karena di daerah level 4 lebih ketat, masyarakat akan bergerak ke daerah yang lebih longgar.

Ada dua pemicu utama yang menyebabkan Magetan masuk level 4. Angka kematian dan kapasitas respons. Kapasitas respons terdiri dari positivity rate dan tracing. Positivity rate Magetan masih tinggi, yakni 19,46 persen. Artinya, setiap 100 orang yang dites PCR di Magetan, akan ada 19 orang yang positif. Tentu angka ini mengkhawatirkan. Angka positivity rate yang bisa ditoleransi mestinya lebih kecil dari 5 persen. Semakin kecil semakin baik.

Mengapa positivity rate masih tinggi? Salah satu sebabnya tracing masih rendah. Magetan masih di angka 5,6. Idealnya lebih dari 14. Dari satu kasus positif, yang di-swab PCR paling tidak harus 15 orang. Kenyataannya baru 5-6 orang per kasus.

Ini terjadi karena berbagai sebab. Di lapangan, petugas tracer menemui kesulitan ketika memeriksa kontak erat. Banyak yang tidak bersedia. Atau tidak mengaku bila berkontak erat. Jika dinyatakan positif akan dianggap beban. Malah dianggap di-Covid-kan.

Kemudian, angka kematian tinggi. Sejak Juli 2021, ada kenaikan kasus konfirmasi dan kematian. Puncaknya akhir Juli sampai pertengahan Agustus 2021. Pada 26 Juli-1 Agustus 2021 merupakan puncak peningkatan angka kematian. Sepekan 95 orang meninggal. Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa angka kematian demikian tinggi.

Masyarakat sering menyembunyikan apabila ada keluarga yang sakit. Ketika ada gejala, dianggap sakit biasa. Karena, jika dirawat, tidak bisa dijenguk. Jika meninggal karena Covid-19, pemakaman memakai prosedur protokol kesehatan. Biasanya dari rumah sakit langsung ke makam. Keluarga tidak dapat melakukan upacara atau ritual. Karena itu, ketika sudah dalam kondisi parah, baru dibawa ke rumah sakit. Tentu sulit untuk diselamatkan.
Lalu, kelangkaan vaksin. Ketika gelombang kedua, cakupan vaksin masih sedikit. Malah banyak masyarakat enggan divaksin. Berbagai alasan muncul. Informasi menyesatkan justru dipercaya. Katanya vaksin membuat orang sakit. Bahkan, di media sosial beredar ada cip rahasia di dalam vaksin. Sengaja direkam dan disebarkan, koin bisa menempel di bekas suntikan orang yang baru divaksin.

Yang lebih membuat rentan dan berisiko adalah jumlah warga lanjut usia (lansia). Ketika belum ada pandemi, usia harapan hidup cukup tinggi. Tidak mengherankan bila di Magetan jumlah lansia mencapai 20 persen dari jumlah penduduk. Di atas rata-rata nasional yang hanya 10 persen. Tingginya angka lansia ternyata sangat berisiko saat pandemi seperti Covid-19 sekarang.

Sejak awal saya sudah menyadari risiko dari jumlah lansia yang besar. Oleh sebab itu, saya minta lansia dan ibu hamil diprioritaskan mendapatkan vaksin. Namun, di awal distribusi vaksin, dari pemerintah pusat sudah disebutkan peruntukannya. Untuk pelayanan publik, guru, dan para tenaga kesehatan yang memang bekerja di garda depan. Vaksinasi lansia baru digenjot setelah gelombang kedua pandemi muncul.

Angka kematian dan respons yang belum memadai inilah yang menyebabkan Magetan dan Ponorogo masuk level 4. Pada waktu evaluasi PPKM level 4 yang dipimpin oleh Menko Marves, saya dan bupati Ponorogo diminta menyampaikan laporan serta langkah-langkah yang telah diambil.

Dalam kesempatan tersebut, saya laporkan bahwa Magetan itu unik. Jumlah lansianya cukup besar. Juga berisiko. Oleh sebab itu, diperlukan serbuan vaksin untuk melindungi. Tampaknya pengalaman Magetan dan Ponorogo tersebut menjadi dasar kebijakan. Bahwa distribusi vaksin selanjutnya diprioritaskan untuk lansia.

Saya langsung berbicara dengan Dokkes Kodam V Brawijaya, Polda Jatim, dan Dinkes Provinsi Jatim mengenai pentingnya serbuan vaksin untuk lansia. Gayung bersambut. Usulan saya disetujui gubernur Jatim. Magetan mendapat serbuan vaksin sebanyak 20 ribu. Dilaksanakan pada Minggu lalu di 22 puskesmas dan GOR Ki Mageti.

Serbuan vaksin untuk lansia akan terus dilakukan. Bantuan PMI, Kodam, Polda, dan Lanud Iswahjudi segera menyusul. Apalagi, saat ini jumlah yang divaksin menjadi salah satu tolok ukur daerah bisa naik atau turun level PPKM. Tentu rebutan vaksin akan jadi persoalan baru. Semua ingin melindungi masyarakatnya. Jangan sampai, sudah sulit mendapat vaksin, justru masyarakat enggan divaksin. Saya yakin harapan 70 persen penduduk tervaksin akan tercapai. Dan, bakal tercipta kekebalan kelompok. Semoga. (*/naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button