Ponorogo

Lebih Dekat dengan Komunitas Pesepeda Gunung Ladies Tenggara

Emak-Emak yang Berpantang Tinggalkan Urusan Rumah Tangga

Bersepeda gunung juga disukai kaum hawa. Bahkan, di Ponorogo ada komunitas emak-emak pehobi gowes. Anggotanya beragam latar belakang. Pantang buat mereka meninggalkan kewajiban mengurus rumah tangga sebelum ngonthel.

=====================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SETIAP sore di atas meja makan harus ada nasi, sayur, dan lauk. Rumah juga harus bersih dan rapi. Setelah memastikan semua itu, Roni Sita Widyastuti bersiap gowes. Bersepeda di jalan terjal perdesaan. Bersama emak-emak lain. Pilihan rutenya banyak. Di Sooko, Pulung, atau Sawoo. ‘’Pantang berangkat sebelum urusan rumah tangga beres,’’ kata perempuan 40  tahun ini.

Roni adalah seorang pendidik dan ibu satu anak. Tapi jangan salah. Kesibukannya saban hari tidak hanya di sekolah dan di rumah. Hampir setiap sore Roni mengayuh sepeda gunung. Bersama rekan-rekan sehobi membentuk komunitas Ladies Tenggara. Anggota aktifnya saat ini 20 orang. Dari berbagai kalangan. ‘’Emak-emak semua. Tertua 46 tahun. Ada ibu rumah tangga, polwan, pengusaha, petani, dan peternak,’’ urainya.

Komunitas penyuka sepeda gunung itu dibentuk dua tahun silam. Dinamai tenggara lantaran Roni dan anggotanya berdomisili di Ponorogo wilayah tenggara. Mereka rela merogoh kocek hingga belasan juta rupiah demi kenyamanan. ‘’Seminggu bisa tiga atau empat kali bersepeda gowes sore. Dulu sepedanya biasa. Lama-lama, karena medannya semakin sulit, di-upgrade ke yang lebih bagus. Terutama girnya,’’ ungkap Roni.

Komunitas ini paling suka rute di wilayah Sawoo. Di kecamatan berbukit itu, banyak tanjakan menantang untuk ditaklukkan. Misalnya, Bukit Mingging. Atau Waduk Bendo. Rata-rata anggota Ladies Tenggara sudah ’’lulus’’ di tanjakan Ngindeng yang mengarah ke waduk. ‘’Tanjakan Ngindeng itu panjang dan cukup berat. Itu dulu rute gerilya Jenderal Soedirman. Rata-rata sudah lulus di sana,’’ ceritanya.

Roni cs juga rajin ikut berbagai event sepeda gunung. Tak hanya di Ponorogo, namun juga di luar daerah. Minggu (29/12), misalnya, mereka mengikuti Sloride Desember di Slogohimo, Wonogiri. Di event itu para peserta harus bersepeda menembus hutan sampai menyeberangi sungai. ‘’Karena emak-emak, berangkatnya bareng tapi finisnya depan belakang,’’ ujarnya.

Bagi Roni, bersepeda gunung tidak membuatnya lelah. Sebaliknya, lebih bugar menjalankan aktivitas sehari-hari. Manfaat itu juga dirasakan anggotanya. Ladies Tenggara seakan jadi rumah kedua bagi Roni cs. Bersepeda bersama emak-emak saja sudah terasa menyenangkan. Selain itu, komunitas jadi ajang sharing. ‘’Kami dari berbagai latar belakang, tapi disatukan hobi yang sama. Ke depan kami berharap bisa membuat acara charity (amal, Red),’’ ucapnya.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close