Ponorogo

Lebih Dekat dengan drg Enti Isnarni, Humas RSU Aisyiyah, Ponorogo

Puas Memasang Gigi Baru, Pernah Digigit Pasien Anak

Menikmati setiap proses dalam hidupnya. Kini sudah nyaman menjadi dokter gigi di salah satu rumah sakit swasta di Ponorogo. Dulu, semasa kuliah, harus menembus pelosok Jember dan belajar bahasa Madura untuk mendapatkan pasien.

========================

MIZAN AHSANI, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

LANGIT tanpa bintang malam itu. Di suatu desa di Jember, Enti Isnarni mencermati saksama gigi pasiennya. Pasien dokter gigi kelahiran Banjarnegara ini kebanyakan etnis Madura. Enti pun dituntut bisa berkomunikasi menggunakan bahasa ibu mereka. ‘’Sedikit-sedikit yang penting bisa berkomunikasi. Karena sulit juga menggunakan bahasa Jawa,’’ kenang perempuan 38 tahun itu.

Saat ini, Enti Isnarni berpraktik di RSU Aisyiyah, Ponorogo. Pun menjabat kepala bagian humas di rumah sakit swasta tersebut. Enti juga sempat bertugas di lingkungan militer. Di Detasemen Kesehatan TNI (DKT). ‘’Sempat enam bulan di Kudus, lalu di Ponorogo sampai sekarang,’’ ujar lulusan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Negeri Jember (Unej) 2007 itu.

Sejak kecil Enti memang bercita-cita jadi dokter. Awalnya ingin jadi dokter umum. Seiring berjalannya waktu, ibu dua anak itu memutuskan jadi dokter gigi. Sebab, kala remaja, Enti sangat peduli estetika diri. ‘’Menurut saya, penampilan yang menarik itu salah satunya ditunjang oleh gigi yang sehat dan bersih,’’ tuturnya.

Semasa kuliah, mahasiswa FKG Unej dituntut mencari sebanyak-banyaknya pasien untuk memenuhi requirement penilaian. Sepulang kuliah, Enti pun keliling desa mencari pasien. Pelayan toko, teknisi bengkel, dan lainnya. ‘’Siapa saja yang saya temui, saya tawari jadi pasien. Sering ketemu di pelosok desa dan sampai tengah malam,’’ ungkapnya.

Pengalaman itu membentuk karakternya kini. Sebagai dokter, Enti terus belajar hal baru. Karena di pelosok dulu, dia banyak menemukan kasus gigi yang cukup kompleks. Belum termasuk tren estetika gigi yang terus berkembang. Namun, dari sekian banyak tipikal pasien, Enti paling senang menangani pasien yang kehilangan gigi, lalu bisa memasang gigi baru untuk mereka.

Ada kepuasan tersendiri melihat pasien kembali tersenyum cerah. Enti juga senang menangani pasien anak. Harus telaten memang. Dan, ada saja cerita yang didapat. ‘’Pernah cabut gigi anak, tapi dia meronta lalu menggigit tangan saya sampai berdarah,’’ kenang pehobi traveling ini.*** (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button