Madiun

Lawan Penguasa, Aliansi Jurnalis Gelar Aksi Diam

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Aliansi Jurnalis Madiun menggelar aksi diam di alun-alun Kota Madiun sekitar pukul 15.00 Jumat (27/9). Aksi itu merupakan simbol perlawanan terhadap penguasa yang represif kepada insan pers. ‘’Kami tidak terima jurnalis yang melakukan peliputan di berbagai daerah seperti Makassar dan  Jakarta dipukuli. Alat kerjanya dirampas aparat kepolisian,’’ kata Abdul Jalil, koordinator aksi.

Menurut dia, pekerjaan jurnalis diatur dalam UU 40/1999 tentang Pers. Dalam pasal 4 UU tersebut mengatur pers nasional berhak mencari, memperoleh, mengolah, dan menyebarluaskan informasi. Sementara pasal 18 mengatur setiap orang yang menghambat atau menghalangi kerja jurnalistik diancam pidana maksimal dua tahun penjara atau denda paling banyak Rp 500 juta.

Sehingga, lanjut dia, seharusnya pers dilindungi aparat keamanan. Meeka seharusnya mengayomi masyarakat, termasuk jurnalis. Namun, yang terjadi dalam aksi unjuk rasa mahasiswa menolak sejumlah RUU kontroversial, justru sebaliknya. ‘’Ini merupakan tindakan represif dari aparat kepolisian kepada jurnalis dan aktivis HAM yang harus ditiadakan,’’ tegasnya.

Dalam aksi diam itu, para jurnalis juga menyatakan penolakan RUU KUHP. Salah satu RUU kontroversial yang ditolak mahasiswa hingga mereka turun ke jalan-jalan mulai di Jakarta hingga berbagai daerah. ‘’Karena RUU KUHP juga membungkam kebebasan pers di Indonesia,’’ sergahnya.

Aksi diakhiri dengan tabur bunga di atas kartu pers mereka yang telah dikumpulkan. Itu simbol kematian kebebasan pers. ‘’Mengubur kartu pers sebagai simbol pemerintah saat ini hendak membunuh kebebasan pers di Indonesia,’’ sindirnya. (mgd/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button