Madiun

LARD, Srikandinya PSM Madiun yang Fanatik

Kerap Galang Dana untuk Korban Bencana

Kebangkitan PSM Madiun tahun ini menjadi tonggak lahirnya LARD. Puluhan perempuan bergabung komunitas itu dengan mengusung spirit heroisme Raden Ayu Retno Dumilah.

===========================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

 

Terkubur harapan pernah kau alami.

Pupus terkubur oleh waktu.

Penantianku hanya untukmu.

Bangkit maju PSM Madiunku.

BAIT lagu Untukmu PSM Madiunku itu nyaring terdengar dari tribun barat Stadion Wilis Kota Madiun. Suara tersebut berasal dari sejumlah gadis yang sedang mendukung timnya saat bertanding. Meski jumlahnya hanya 50-an orang, nyanyian mereka memenuhi seantero lapangan.

Puluhan perempuan itu adalah fans fanatik PSM yang tergabung dalam Laskar Ayu Retno Dumilah (LARD). Komunitas tersebut terbentuk pada 7 Maret lalu. ‘’Kami pakai nama Raden Ayu Retno Dumilah karena beliau adalah pemimpin perempuan yang hebat,’’ kata Adinda Rahayu Rahmadani, salah seorang perwakilan LARD.

Ya, catatan sejarah menyebutkan bahwa Retno Dumilah dikenal sebagai panglima perang yang tangguh. Di bawah komandonya, pasukan Mataram berhasil dipukul mundur dua kali saat melakukan serangan ke wilayahnya pada 1586 dan 1587.

Namun, serangan besar Mataram pada 1590 silam menjadi titik balik. Dengan bijak, Retno Dumilah memilih bernegosiasi. Sebab, jika perang diteruskan bakal menelan banyak korban jiwa. ‘’Dia sosok pemimpin besar dan bijaksana,’’ imbuh gadis 23 tahun itu.

Puluhan perempuan yang bergabung LARD berasal dari berbagai daerah di Madiun Raya. Bahkan, ada yang saat ini tinggal di Malaysia. Meski jumlah anggota hanya 50-an, saat PSM Madiun bermain bisa menjadi berlipat-lipat. ‘’Kalau tim sedang bertanding otomatis suporter yang cewek gabung ke LARD,’’ ujarnya.

Momen kebangkitan PSM Madiun tahun ini juga yang mendorong Candra Mianesya Erlina ikut bergabung LARD. Sebelumnya, gadis itu merupakan suporter salah satu klub ternama di Jawa Timur. ‘’Suka saja dengan tim asli kota kelahiran saya,’’ ucap Nesya, sapaan akrabnya.

Sebulan sekali Nesya dkk rutin berkumpul. Selain sharing, biasanya mereka membahas atribut yang akan dibawa saat PSM Madiun bermain. Mulai syal, bendera, topi, hingga kostum. Termasuk menyiapkan berbagai peralatan yang digunakan untuk mengiringi mereka bernyanyi saat timnya bertanding.

Momen kumpul bareng itu tidak melulu membicarakan soal bola. Mereka kerap melakukan kegiatan bakti sosial (baksos) seperti penggalangan dana untuk korban bencana dan kaum duafa. ‘’Harapannya PSM Madiun performanya terus meningkat,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button