Bupati Menulis

Lansia Berdaya

ANGKA harapan hidup masyarakat Indonesia merangkak naik. Laki-laki 69,59 tahun dan perempuan 73,46 tahun. Adanya peningkatan terasa berarti di situasi pandemi Covid-19. Setidaknya menimbulkan kesadaran baru atas pentingnya kesehatan.

Pada 29 Mei 2021, kita merayakan Hari Lansia Nasional ke-25. Mengusung tema Lanjut Usia Bahagia Bersama Keluarga. Konsep hidup berkeluarga kita luas. Terdiri bapak, ibu, anak, dan kedua orang tua. Beda dengan negara-negara barat. Konsep keluarga inti pada umumnya tanpa bapak dan ibu. Mereka hidup mandiri hingga tua. Di budaya kita, kalau orang tua hidup sendiri dianggap tidak menghormati.

Cara kebanyakan masyarakat menghormati orang tua dengan menempatkan sebagai pepundhen. Diperlakukan terhormat. Tidak boleh melakukan aktivitas apa pun. Karena itu, muncul mitos kondisi fisik dan mental lansia itu buruk. Lansia juga dianggap tidak kreatif. Pengalamannya tidak relevan dengan era digital. Bukankah lansia ingin hidup tenang? Semestinya tinggal pasrah dan memperbanyak ibadah.

Tentu tidak semuanya salah. Tapi, harus ada yang diluruskan. Banyak contoh lansia yang masih beraktivitas, punya potensi besar, dan menjadi pejabat publik. Mahathir Mohamad kala menjadi perdana menteri Malaysia berusia 94 tahun. Saat ini Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, berusia 78 tahun.

Pekerjaan pelayanan publik yang kurang menarik bagi generasi muda bisa dilakukan lansia. Itu berdasar pengalaman saat saya masih bekerja di dinas perpustakaan dan arsip Pemprov Jawa Timur. Saya mengunjungi kantor pada Sabtu dan Minggu. Ada pegawai yang membawa buah hatinya melayani pengunjung.

Saya lantas bertanya, pilih mana tinggal di rumah bersama anak di hari libur atau kerja lembur membawa anak ke kantor? Jawabannya, lebih baik di rumah bersama keluarga. Karena waktu libur semestinya tidak di kantor.

Timbul ide pelayanan perpustakaan menggandeng organisasi pensiunan pegawai negeri sipil. Ide itu disambut baik. Sebab, memberdayakan para mantan abdi negara yang notabene lansia. Mereka membantu pelayanan perpustakaan pada hari libur.

Cara tersebut memberi kesempatan ASN memanfaatkan akhir pekan untuk liburan bersama keluarga. Sedangkan lansia bisa beraktivitas dan terus memberi manfaat. Sayangnya, saya dimutasi sebelum ide itu terealisasi.

Saya teringat almarhum Rosihan Anwar, wartawan senior. Pada 2007, kami bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengadakan kunjungan persahabatan ke Persatuan Wartawan Malaysia. Dalam perjalanan ke Kuala Lumpur, saya bertanya resep agar tetap sehat, energik, dan produktif menulis di usia di atas 80 tahun.

Menurut dia, ada tiga cara. Olahraga, olah rasa (mendekatkan diri kepada Sang Khalik), dan olah pikir. Khusus olah pikir, beliau mengulas panjang lebar. Jangan sampai berhenti berkarya meski sudah lansia. Tetap beraktivitas dan gunakan otak agar tidak pikun. Jangan membebani anak, apalagi orang lain.

Potensi lansia sangat besar. Di Jawa Timur, lansianya 13,38 persen dari total penduduk 40,6 juta jiwa. Sementara di Magetan ada 128.900 lansia. Atau 19,22 persen dari total penduduk 670.812 jiwa. Perempuannya 69.934 orang dan laki-laki 58.966. Betapa mulianya bila seratusan ribu lansia itu tetap produktif dan berkarya.

Peringatan Hari Lansia Nasional didasari momen Dr KRT Radjiman Wedyodiningrat mengikuti sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei 1945. Beliau anggota tertua, namun masih punya pemikiran cemerlang. Karena itu, 29 Mei ditetapkan hari lanjut usia.

Memang pada akhirnya semua orang akan menjadi lansia. Kita harus menjadikan kehidupan di hari tua itu tetap bermakna. Berkaca Mahathir Mohamad, Joe Biden, Rosihan Anwar, dan KRT Radjiman Wedyodiningrat. Lansia bisa berguna bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga masyarakat di berbagai bidang. Dengan demikian, bukankah umur hanya sebuah angka? (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button