Madiun

Kreativitas Suyati Membuat Tas Berbahan Kain Blacu

Sudah lama gencar dicanangkan untuk pengurangan sampah plastik. Pun, hal itu menjadi motivasi bagi Suyati untuk menyiapkan tas khusus. Berbahan kain blacu. Produk tas itu digunakan oleh para pengunjung Pasar Pundensari untuk mengantongi jajanan.

—————-

FATIHAH IBNU FIQRI, Madiun

BERKAWAN dengan mesin jahit. Bukan mesin yang cukup canggih. Dia menggunakan yang masih menggunakan pedalan kaki. Kain putih itu sudah dipotong-potong sedemikian rupa. Kemudian, dirangkai menjadi satu. Tas sederhana itu sudah siap dijajakan kepada pengunjung yang ada di Pasar Pundensari. Pasar yang buka setiap hari Minggu, di Desa Gunungsari, Kecamatan/Kabupaten Madiun.

Tas yang berjenis tote bag itu adalah tas yang sengaja diperjualbelikan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Saat awal-awal gelaran pasar Pundensari, hampir semua pedagang masih menggunakan kantong plastik untuk melayani pembeli. Wadah jajanan pun sama. Akhirnya, ada seseorang yang menyarankan untuk tidak menggunakan wadah plastik untuk makanan. ’’Juga termasuk untuk membawa makanannya tidak boleh pakai kantong plastik,’’ kata Suyati.

Suyati merasa ketiban sampur. Dia lantas mencari tahu jenis kain apa yang cocok. Sampai ada rekannya yang menyarankan agar dirinya membuat tas berbahan kain blacu. ’’Kebetulan murah, dan bahannya mudah didapat,’’ ungkapnya.

Kain blacu adalah kain yang baru selesai ditenun. Pun, kain polos berwarna putih itu pun dibuatnya dalam dua ukuran. Satu ukuran sedang, yakni sekitar 20×30 sentimeter. Sedangkan satunya sedikit besar. Ukurannya 30×40 sentimeter. Ukuran kecil dijualnya dari harga Rp 7 ribu, sedangkan yang besar besar Rp 15 ribu. Tergantung dari permintaan bordiran atau sablon. ’’Kalau bordir ada tulisan pasar pundensari, kalau yang sablon ada tulisan KNWLDG yang disablonkan ke BUMDes setempat,’’ katanya.

Meski begitu, dia tak langsung membuat dalam jumlah banyak. Kadang hanya membuat sebanyak 5 hingga 10 buah tas saja untuk stok. Baru kalau ada pesanan membuat yang agak banyak. Namun, kebanyakan memang pesan kepadanya melalui karang taruna atau langsung ke dirinya sendiri. Dia menjelaskan, dulu dirinya sempat menjual tas itu di pasar. Namun, karena stan tempat dulu dia menitipkan sudah tidak ada, akhirnya dia hanya menunggu pesanan dan kalau ada stok di rumah akan diambilkan. ’’Para pengunjung saya tanyai, apakah sudah memiliki kantong apa belum,’’ katanya.

Kalau belum, dia akan menawarkan tas buatannya. Kebetulan dia kebagian jadi juru tukar uang di pasar destinasi digital tersebut.  Pun, kalau pengunjung memang menginginkan tas blacu buatannya, maka dia akan mengambilkannya di rumah yang tak jauh dari pasar. Namun, ada juga yang sudah membawa tas sendiri ketika datang ke Psar Pundensari. ‘’Yang penting tidak ada yang memberi mereka kantong plastik,’’ katanya.

Hingga saat ini dia memang masih belum menyentuh semua lini. Pasalnya, warga setempat pun juga masih harus dibiasakan untuk tidak menggunakan benda berbahan plastik. Khususnya untuk wadah ketika berbelanja di toko atau di mana pun. Merek amasih mengandalkan kantong plastic yang sangat sulit diurai.  Sampah tersebut hanya bisa didaur ulang. Namun, kebanyakan dari mereka membuangnya begitu saja. ’’Kan jadi membahayakan lingkungan,’’ ungkapnya.

Pun, saat ini  belum ada variasi baru dari tasnya. Warnanya pun juga masih putih semua. Nauna, di aingin membuat inovasi yang baru. Yakni dengan menambahkan aksesoris di pojokan tas. Gunanya pun jug auntuk merapikan lipatan tas. Sekarang dia sudah memiliki contohnya dan tinggal di ujicobakan ke tas dari kain blacu. ‘’Kainnya nanti juga akan diberi variasi warna, jadi tidak hanya putihs aja,’’ pungkasnya. *****(ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button