Magetan

Kreativitas Para Perempuan Eks Buruh Migran di Desa Kediren, Kecamatan Lembeyan

Angkat Hasil Bumi Petani lewat Pemilihan Motif Jagung

Kelompok Batik Jaya Mandiri telah berdiri satu tahun lalu. Anggotanya para perempuan mantan buruh migran. Mereka kemudian dilatih dan diberdayakan untuk membuat batik Bogo Kedirenan yang bermotif jagung. Usaha itu sekarang menjadi sumber ekonomi utama mereka.

=================

FATIHAH IBNU FIQRI, Magetan, Jawa Pos Radar Magetan

BELASAN ibu tampak serius membatik di sebuah rumah kampung yang berada di RT 05, RW 01, Desa Kediren, Kecamatan Lembeyan, kemarin (10/11). Mereka tergabung dalam kelompok batik Jaya Mandiri. Dengan telaten ibu-ibu yang mayoritas merupakan eks buruh migran itu menuangkan lilin dari canting ke kain mori primis lantas membentuk pola-pola seperti tanaman jagung.

Supaya lebih eye catching, mereka oleskan waterglass ke pola yang sudah diwarnai tersebut. ‘’Waterglass itu nanti digunakan untuk mengunci warna agar warna dasar hitam nanti tidak tercampur,’’ terang Yuli Erlinawati, ketua kelompok batik Jaya Mandiri.

Sebelum bergabung dalam kelompok batik Jaya Mandiri, Yuli menerangkan bahwa mereka sempat mendapatkan pelatihan dari Pemkab Magetan. Bahkan, mereka juga diberikan bantuan alat untuk membantik. Sayang, ilmu pelatihan yang didapat ternyata tidak bertahan lama. Alat bantuan dari pemkab sempat mangkrak.

Para anggota kelompok yang didominasi para perempuan mantan buruh migran itu lantas coba mengembangkan diri. Semua bermula ketika ada mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Kediren mempelajari cara mereka membantik. Dari situ kemudian kemampuan mereka mulai terlihat ada peningkatan. ‘’Terhitung kami sudah sekitar satu tahun berdiri,’’ ungkap Yuli.

Kreativitas itu mereka wujudkan dalam bentuk motif batik yang dinamai Bogo Kedirenan. Motif itu menggambarkan tanaman jagung yang dipadupadankan dengan variasi gambar daun.

Jagung sengaja dipilih sebagai motif batik karena merupakan komoditas utama masyarakat Desa Kediren. Selain itu, motif tersebut tergolong orisinal. Karena belum ada motif lain yang serupa di daerah lain. ‘’Sekaligus mengenalkan kepada masyarakat luas, kalau di desa kami adalah penghasil utama jagung. Serta ke depan supaya jagung para petani setempat laku,’’ terangnya.

Sebelum populer seperti sekarang, pembuatan batik dengan motif jagung hanya dilakukan pada acara-acara tertentu. Terutama saat menjelang bersih desa atau ketika ada pesanan dari pemerintah desa (pemdes). ‘’Pembuatan batik Bogo Kedirenan ini dikerjakan oleh 12 orang. Sehingga, tenaganya terbatas. Ketika ada pesanan banyak, kami kewalahan,’’ ungkapnya.

Sebab, menurut Yuli, proses pengerjaan batik Bogo Kedirenan untuk satu lembar kain dibutuhkan waktu sekitar 15 hari. Proses itu dijalankan mulai dari penggambaran pola, mencanting, hingga mewarnai kain mori primis. Proses pewarnaan menjadi tahapan paling lama dalam pembuatan batik Bogo Kedirenan. Karena prosesnya hanya dikerjakan oleh satu orang.

Sedangkan, mayoritas anggota kelompok hanya mampu mencanting dan menggambar pola. Yuli mengatakan, pelatihan khusus belum bisa dilakukan untuk saat ini. ‘’Karena banyak pesanan. Sehingga pekerjaan menumpuk,’’ tuturnya.

Terkait produk pemasarannya, Yuli menyebut selembar batik Bogo Kedirenan dijual Rp 115 ribu untuk lengan pendek. Sedangkan, untuk yang lengan panjang Rp 125 ribu. ‘’Sementara kami hanya melayani made by order dulu,’’ pungkasnya. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button