features

Kreativitas Marsono Mengemas Getuk Golan Menjadi Tumpeng

Jajanan Wajib Bupati di Pringgitan

Kreasi melanggengkan eksistensi sebuah produk. Di tangan Marsono, Getuk Golan yang sudah dikenal luas dikemas menjadi tumpeng. Generasi ketiga pembuat getuk di keluarganya itu coba mendobrak tradisi perayaan ulang tahun yang identik dengan nasi kuning atau kue tar.

RONAA NISA, Jawa Pos Radar Ponorogo

IDE memenuhi kepala Marsono ketika 2008 lalu merintis sendiri usaha Getuk Golan. Waktu itu tinggal tiga keluarga yang bertahan memproduksi getuk. Termasuk Bonirah, ibu Marsono, si empunya brand Getuk Mbok Bon. ‘’Akhirnya mulai 2014 saya pakai nama itu,’’ kata warga Dusun Karangan, Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, itu.

Sejak resmi menjadi generasi ketiga penerus Getuk Mbok Bon, Marsono tancap gas mengembangkan usahanya. Lelaki 37 tahun ini berusaha mengubah tradisi perayaan ulang tahun yang selalu identik dengan kue tar atau nasi kuning. ‘’Saya manfaatkan media sosial untuk mengenalkan tumpeng Getuk Golan sebagai sajian perayaan ulang tahun,’’ ujarnya.

Tumpeng berisikan kudapan berbahan ketela itu dihargai sesuai ukuran dan variasi isinya. Satu jajanan dihargai seribuan rupiah. Rata-rata satu tumpeng berisi getuk dan aneka jajanan dihargai Rp 250 ribu. ‘’Sempat ada yang memesan tumpeng getuk senilai Rp 1 juta,’’ ungkapnya.

Tumpeng getuk buatan Marsono mendapat sambutan positif. Selain dari Ponorogo, pesanan berdatangan dari Madiun. Dia juga kerap mengikutkan produknya dalam berbagai pameran di kota besar. ‘’Dua kali dalam sebulan selalu kirim ke Pringgitan (rumah dinas bupati, Red). Terakhir tim Arumi Bachsin (istri Wagub Emil Dardak) juga memesan,’’ sebutnya.*(naz/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button