features

Kreasi Karung Goni Fatmalia Yulinda Tembus Pasar Luar Pulau

Permukaan Dibakar untuk Hilangkan Efek Gatal

Selama ini karung goni umumnya hanya digunakan sebagai wadah beras atau palawija. Namun, di tangan Fatmalia Yulinda, barang itu mampu disulap menjadi kerajinan bernilai jual tinggi.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

SUARA khas terdengar jelas dari sebuah ruangan rumah Fatmalia Yulinda di Jalan Semangka, Taman. Bunyi itu berasal dari mesin jahit milik perempuan 36 tahun tersebut. Sore itu, Fatma –sapaan akrabnya- sedang menyelesaikan kerajinan berbahan dasar goni.

Tangannya tampak lihai menggoyangkan lembaran karung goni di papan mesin jahit. Sorot matanya tajam melihat detail hasil jahitannya. Tak berselang lama, karung goni itu sudah berubah menjadi pola tas perempuan. ”Belajar otodidak. Butuh banyak percobaan juga sampai menemukan formula yang pas,” kata Fatma.

Aktivitas Fatma berkreasi dengan karung goni awalnya sekadar untuk mengisi waktu luang sebagai ibu rumah tangga. Pengalaman membuat kerajinan tas rajut membuat keyakinannya menebal. ‘’Akhirnya lihat-lihat video tutorial di YouTube. Mulai cara pengolahan, sterilisasi agar tidak gatal saat digunakan, sampai pewarnaan,” bebernya.

Pada 2017 silam Fatma akhirnya mulai fokus menekuni usaha tersebut. Enam bulan pertama penjualan masih seret lantaran konsumen ragu. Mereka khawatir tas menimbulkan gatal saat dipakai. Namun, istri Yusuf Ardiatno itu tidak patah arang. Dia terus menyempurnakan karyanya dan mencoba memasarkan via online serta mengikuti pameran.

Hasilnya, pesanan mulai mengalir. Tidak hanya dari Madiun Raya, belakangan karyanya mampu menembus pasar luar pulau seperti Bali, Mataram, Ambon, hingga Palu. Pun, varian produknya semakin bertambah. Tidak hanya tas, melainkan juga dompet, tempat tisu, kantong handphone, dan suvenir. ”Sebenarnya yang membuat gatal bukan kotornya goni, tapi dari serabut halusnya. Nah, untuk mengakali saya kasih pelapis, termasuk membakar permukaannya,” ungkap Fatma.

Selama ini Fatma hanya melayani model custom alias sesuai permintaan konsumen. Pun, itu pula tantangan yang harus dihadapi lantaran selera orang berbeda. ‘’Belakangan karena faktor ketersediaan bahan baku, saya juga pakai kain goni. Kalau karung goni lebih tebal dan berserabut halus, sedangkan kain goni bentuknya lembaran dan lebih kasar,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 tidak membuat pesanan seret. Sebaliknya, justru mengalami peningkatan. Kini dalam satu bulan Fatma mampu meraup omzet rata-rata Rp 5 juta. ‘’Harga jualnya mulai Rp 30 ribu sampai Rp 250 ribu, menyesuaikan jenis produk,’’ sebutnya. (*/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close