Bupati Menulis

Kotak Amal

MENGEJUTKAN. Magetan tiba-tiba berkembang informasi menjadi lokasi penempatan kotak amal untuk mendanai kegiatan terorisme. Jumlahnya mencapai 2.000 unit. Bayangkan, jumlah desa dan kelurahannya hanya 235 dari 18 kecamatan. Gambarannya, kalau dirata-rata, setiap desa ada empat kotak amal.

Potensi kotak amal itu biasa ditempatkan bisa diketahui. Yang paling umum dan favorit adalah rumah makan atau warung ramai pengunjung. Saya sering melihat kotak amal lebih dari satu.

Setelah mendengar informasi kotak amal untuk dana terorisme, saya segera berkoordinasi dengan lembaga terkait. Kami ambil langkah. Niat baik dari pemberi jangan sampai berujung pada hal negatif.

Beberapa waktu lalu, saya sengaja melakukan uji petik. Setelah bersepeda sekitar tujuh kilometer keluar dari Kecamatan Magetan, mampir ke warung pecel untuk sarapan. Karena warungnya cukup ramai, saya menduga ada kotak amal. Dugaan itu terbukti. Ada dua buah kotak amal dari sebuah yayasan di Magetan dan satunya dari salah satu kabupaten di Jawa Tengah.

Yang membuat saya terkejut, pemilik warung ternyata tidak tahu identitas peletak kotak amal tersebut. Apalagi, mengecek kebenarannya. Pemilik warung ternyata hanya bermodal percaya terhadap niatan peletaknya. Sebagai orang Jawa, ada perasaan ewuh pakewuh jika bertanya detail. Mau meletakkan kotak amal kok dibuat ribet. Kalau mempermudah, bisa jadi mendapat pahala.

Kemudahan dan sifat permisif masyarakat akhirnya dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab. Hal tersebut perlu diwaspadai. Kejadian ini juga menjadi momentum yang bagus untuk berbenah. Sistem pengelolaan bantuan amal perlu diperbaiki. Mengingat banyak lembaga keagamaan yang butuh bantuan, seperti panti asuhan.

Di Indonesia, ada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang dibentuk di 463 kabupaten dan kota dari 34 provinsi. Badan resmi yang dibentuk berdasar Keputusan Presiden 8/2001. Tugas dan fungsinya menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di tingkat nasional.

Di Magetan, potensi Baznas sangat besar. Sayangnya, belum tergarap maksimal. Jumlah penduduk kabupaten ini lebih dari 700 ribu jiwa dan 95 persen beragama Islam. Akan tetapi, yang dikelola Baznas belum sampai Rp 1 miliar setahun.

Hasil pengumpulan ZIS selama ini disalurkan kepada mustahik. Bentuknya berupa bedah rumah, sembako, dan beasiswa bagi warga kurang mampu. Kalangan wajib bayar zakat yang disentuh Baznas belum menyentuh masyarakat luas. Saat ini kebanyakan ASN yang disetorkan bendahara gaji setiap bulannya. Sekali lagi sangat disayangkan. Lembaga resmi bentukan pemerintah belum maksimal dalam mengumpulkan dan menyalurkan ZIS. Ini tantangan bagi Baznas pusat hingga daerah.

Kembali ke indikasi kotak amal di Magetan untuk kepentingan terorisme. Hasil rapat koordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan22 Desember lalu, sejumlah kebijakan diambil. Salah satunya, mengimbau masyarakat agar lebih hati-hati dan selektif dalam menerima permintaan penempatan kotak amal. Lembaganya harus dicek, mulai alamat hingga penanggungjawabnya.

Akan lebih baik jika lembaganya berada di Magetan. Selain memudahkan kontrol, banyak warga Magetan perlu uluran tangan. Buktinya, angka kemiskinan masih sekitar 9,6 persen. Ada 6.000 unit rumah tidak layak huni, serta 1.500 orang tua sebatang kara atau tinggal bersama anak yang sama-sama miskin. Belum lagi perbaikan tempat ibadah, panti asuhan, sekolah, dan lainnya.

Tentu uluran tangan dari sesama warga Magetan sangat diperlukan. Bukannya melarang bantuan dari luar daerah. Ini hikmah dari terkuaknya 2.000 kotak amal terindikasi untuk kepentingan terorisme. Pemberi sumbangan dan pihak yang mau menerima penempatan kotak amal, harus dijaga dan dilindungi. Itu kewajiban kita semua. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button