Madiun

Kota Pendekar Buka Pintu Lebar-Lebar, Syaratnya Tetap Santun

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pelaksanaan Suroan dan Suran Agung tahun ini benar-benar beda. Semua pesilat bisa datang dengan leluasa ke Kota Pendekar. Namun, sesuai syarat dari Wali Kota Madiun Maidi yang wajib ditaati, harus tetap santun. Pola pengamanan sudah dilakukan finalisasi Senin (26/8) di gedung Bhara Makota, Polres Madiun Kota, Senin (26/8).

Ikut merumuskan pola pengamanan dilakukan kapolres di eks Karesidenan Madiun. Minus kapolres Ponorogo yang diwakili kabag ops lantaran bersamaan dengan event Gerebeg Suro. Wali kota Madiun Maidi dan Bupati Madiun Ahmad Dawami juga hadir di acara itu.

Sesuai jadwal, tradisi menyambut pergantian tahun baru Islam diawali kegiatan Suroan dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mulai 30 Agustus – 6 September. Selanjutnya, kegiatan Suran Agung dari Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Tunas Muda, pada 15 September. Wali kota Madiun Maidi meminta agar semua pendekar menjaga kondusifitas pelaksanaan Suroan dan Suran Agung. ’’Kota Pendekar harus aman,’’ ujarnya.

Maidi menambahkan, sesuai kesepakatan ada larangan konvoi sepeda motor. Bagi warga PSHT asal Kota Pendekar saat nyekar bisa berjalan kaki ke makam leluhurnya. Sedangkan dari luar daerah bisa menggunakan kendaraan roda empat. Dilarang bak terbuka. Disarankan pakai mobil maupun bus. Sama seperti pesilat dari PSHW Tunas Muda ketika melaksanakan Suran Agung. ’’Aturan ini harus ditaati. Mari bersama-sama jangan menodai bulan Muharram dengan perbuatan yang tidak baik,’’ tegasnya.

Sementara itu, Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu menambahkan, sudah diteken pakta integritas. Yakni, dari masing-masing kapolres di eks Karesidenan Madiun bersama ketua umum dari ketua PSHT maupun PSHW Tunas Muda. ’’Yang penting pakta integritas itu harus ditaati betul. Seperti suro dan suran Agung menggunakan roda empat harus dikawal petugas TNI dan Polri,’’ ujarnya.

Nasrun tidak menghendaki para pendekar yang datang ke Kota Madiun membuat onar. Dia meminta semua pendekar dari perguruan pencak silat PSHT maupun PSHW Tunas Muda untuk mengedepankan sikap santun dan menjadikan kondisi Kota Madiun tetap aman serta nyaman. ’’Biar masyarakat itu bisa menikmati kegiatan Suro dan Suran Agung tersebut. Jadi, mereka tidak khawatir menjalankan aktivitasnya dengan adanya kegiatan itu,’’ ujar mantan Kasubdit II Ditreskrimum Polda Sumsel tersebut.

Nasrun menegaskan zero accident saat pelaksanaan Suroan dan Suran Agung selama empat tahun terakhir harus dapat dipertahankan. Sekaligus mendorong para pendekar merubah mindset pelaksanaan Suroan dan Suran Agung sebagai kegiatan yang tidak mencekam dan berujung konflik. ‘’Harus bisa kita ubah bahwa kegiatan itu nanti sifatnya aman dan nyaman,’’ tegas perwira dengan pangkat dua melati di pundak tersebut.

Pihaknya menyatakan pengamanan Suroan dan Suran Agung bakal melibatkan sekitar 1.150 personel gabungan. Mereka akan bertugas di masing-masing sektor. Seperti di sejumlah perbatasan kota-kabupaten dan di sekitar kegiatan Suroan dan Suran Agung. (her/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button