Magetan

Korona Renggut Nyawa Direktur BPR

Sumber Penularan Belum Diketahui

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Magetan harus bekerja keras melacak sebaran para penyandang kontak erat kasus Covid-19 BPR di Kecamatan Kawedanan. Setelah IH, direktur bank swasta, itu meninggal dunia dengan status terkonfirmasi positif korona.

Pasien ke-198 itu terenggut nyawanya Kamis (20/8) dengan hasil swab keluar tiga hari berselang atau Minggu (23/8). ‘’Belum diketahui sumber penularannya. Saat ini (pelacakan, Red) sulit dilakukan karena mobilitas masyarakat sudah tinggi,’’ kata Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan Didik Setyo Margono Senin (24/8).

Petugas medis dinkes melakukan uji cepat seluruh karyawan BPR kemarin. Dari 88 orang yang diambil sampel darah, lima di antaranya hasilnya reaktif. Kelimanya lantas dites swab. Di luar itu, sampel lendir tenggorokan dan hidung 14 karyawan diambil tanpa rapid test. Sebab, mereka punya riwayat kontak erat dengan atasannya.  ‘’Hasilnya akan diketahui beberapa hari ke depan,’’ ujarnya.

Didik menyebut, 19 karyawan itu dianjurkan menjalani isolasi mandiri. Temponya hingga hasil swab keluar. Mengantisipasi penularan korona meluas bila hasil uji usapnya positif. ‘’Tentu saja kami berharap hasilnya negatif,’’ ucapnya.

Dia menerangkan, IH dirawat dan meninggal di RSI Siti Aisyah, Madiun. Di rumah sakit itu, tes swab pria 43 tahun tersebut dilakukan. ‘’Dimakamkan sesuai prosedur Covid-19,” katanya. (bel/c1/cor)

Warna Zona Berganti, Uji Coba KBM Tak Berhenti

WARNA peta epidemiologi Covid-19 Magetan kembali berubah menjadi oranye dari sebelumnya kuning. Perubahan tersebut tidak membuat Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) menghentikan pelaksanaan uji coba kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka satuan pendidikan di bawah naungan Pemprov Jawa Timur.

Juru Bicara GTPP Covid-19 Magetan Saif Muchlissun beralasan belum ada ketentuan uji coba harus distop ketika daerah pelaksana tidak lagi zona kuning. Pasalnya, warna dalam peta epidemiologi sangat dinamis. Skala persebaran Covid-19 bisa berubah setiap saat berdasarkan 24 indikator. ‘’Hari ini oranye, bisa jadi besok sudah kuning. Kalau seperti itu, apa harus mengganti skenario lagi?’’ katanya Senin (24/8).

Muchlis, sapaan akrab Saif Muchlissun, mengatakan, perubahan warna zona menjadi kewenangan pemerintah pusat. Akan tetapi, boleh tidaknya pelaksanaan segala kegiatan kemasyarakatan di daerah perlu rekomendasi GTPP. Bukan hanya dunia pendidikan, tapi juga pelayanan pemerintahan dan publik. ‘’Semua harus konsultasi dan mendapatkan rekomendasi,’’ ujarnya.

GTPP menegaskan bahwa kegiatan kemasyarakatan harus tetap berjalan tanpa memandang warna zonanya. Terutama sektor perekonomian. Namun, pelaksanaannya harus diikuti kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan. ‘’Langkah itu yang bisa dilakukan sambil menunggu vaksin Covid-19 ditemukan,’’ ucapnya. (bel/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close