Bupati Menulis

Korona (Covid-19)

MAGETAN  menjadi pemberitaan baik di media mainstream maupun media sosial beberapa hari ini. Hal ini terkait dengan warga asli Magetan yang sudah menjadi penduduk tetap di Solo meninggal dunia. Ada informasi yang betul, namun ada juga informasi yang ada beberapa bagian yang kurang tepat atau malah hanya memperkeruh suasana.

Almarhum yang meninggal karena korona galur baru yang disebut Covid-19 adalah H Suwarni. Meninggal setelah dirawat di RSUD Moewardi Solo. Betul almarhum adalah lahir di Magetan, tepatnya di dusun Panasan, Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo. Oleh karena kelahiran Magetan itulah, ketika meninggal kemudian keluarganya memutuskan untuk dimakamkan di tempat asalnya.

Namun yang perlu diketahui, sekali lagi  sudah sejak lama almarhum telah tinggal di Solo dan hidup serta berusaha di Solo. Serta telah menjadi warga solo.  Usaha yang digelutinya adalah usaha batik. Malahan juga menjadi ketua asosiasi pedagang batik di Pasar Klewer.

Tentu dengan pengumuman resmi dari Solo, yang pada intinya menerangkan bahwa meninggalnya H Suwarni sebagai terkena Covid-19 dan dalam pengumuman tersebut disebutkan almarhum sebagai warga Magetan menimbulkan pelbagai akibat. Penyebutan yang sebenarnya sederhana ini ternyata menimbulkan dampak yang luar biasa sekaligus pertanyaan bagi warga Magetan khususnya. Demikian juga bagi warga Magetan diperantauan. Banyak pertanyaan yang kemudian masuk ke saya. Utamanya via WA. Pada intinya, Magetan telah menjadi salah satu tempat yang saat ini menjadi tempat Covid-19 berkembang.

Setiap orang akhirnya beranggapan, bahwa dengan meninggalnya H Suwarni tersebut Covid-19 telah masuk di Magetan, karena terbukti warganya meninggal karenanya. Dasar dari kesimpulan tersebut, karena informasi yang berkembang yang bersangkutan warga Magetan. Faktanya adalah tidak benar seluruhnya. Almarhum telah lama menjadi warga Solo.

            Tidak hanya itu, berkembang kemudian bahwa orang dekatnya mulai tertular. Mulai dari anaknya, sopirnya dsb. Malahan kalau mengikuti media sosial sudah melebar kemana-mana. Istri almahum H Suwarni diberitakan meninggal dunia. Sungguh infromasi yang sengaja disesatkan. Sedang foto yang ditayangkan sebenarnya adalah ketika petugas kesehatan Provinsi dan Kabupaten Magetan mengambil sampel kepada keluarga untuk dicek. Namun dalam foto dikesankan para petugas sedang taksiyah sehingga informasi meninggalnya sengaja dikesankan menjadi kuat. Demikian teganya masyarakat kita memperkeruh suasana seperti itu.

Tidak hanya informasi semacam itu yang kita hadapi. Dalam kasus Covid-19 ini, seolah setiap orang bisa menjadi narasumber dan manjadi ahli semuanya. Setiap informasi apapun baik itu obat yang dapat melawan virus, korban, kondisi suatu negara, daerah tanpa dibaca dan ditelaah sumbernya langsung di-share begitu saja. Akibatnya masyarakat awam sulit membedakan antara informasi yang benar dan kurang benar. Atau malahan justru hoaks. Dalam group Bupati/Walikota se-Jawa Timur Ibu Gubernur juga meminta seluruh kepala daerah untuk memberikan update perkembangan kasus di daerah masing-masing. Di samping itu juga mengirimkan informasi hoaks yang perlu diketahui oleh seluruh pimpinan daerah. Tentu semuanya agar bisa menelaahnya.

Benar dalam pepatah bahasa Jawa ada sebuah kalimat yang mungkin bisa menjadi catatat,Sadawa-dawane lurung isih luwih dawa gurung. Atau dalam bahasa Indonesia,Sepanjang-panjang jalan (lorong) masih lebih panjang tenggorokan. Ucapan seseorang itu dengan mudah tersebar luas tanpa batas. Baik itu informasi itu benar maupun yang menyesatkan.

Kalau dahulu sebelum teknologi informasi berkembang, informasi berkembang dari mulut ke mulut. Atau lewat media mainstream yang kita kenal selama ini. Namun diera digital seperti sekarang ini, informasi yang baik dan tidak baik, bisa tersebar dengan sangat cepatnya. Malahan informasi apapun yang di-upload akan tersimpan sampai dunia ini kiamat. Sehingga siapun dapat menggalinya kapanpun. Dengan demikian perlu kedewasaan dalam era sekarang ini. Atau dalam bahasa yang lebih populer perlu literasi digital.

Negara kita tidak seperti China yang masih mengendalikan informasi dengan demikian ketatnya. Sehingga juga bisa mengendalikan virus ini dengan sangat ketat. Malahan nampaknya sudah berhasil mengatasi merebaknya virus ini ke skala lebih luas. Dan berhasil mengendalikannya. Negara kita tidak seperti negara maju seperti Amerika, Jepang Inggris dll yang telah demikian tinggi literasi digitalnya. Jarang sekali masyarakat dinegara maju yang akan ikut mengambil manfaat di air keruh dalam menghadapi musibah, apalagi untuk kepentingan umum. Atau memperkeruh suasana seperti kasus Covid-19.

 Saya sering berkelakar dipelbagai forum. Negara kita adalah negara yang demikian bebasnya. Karena demikian bebasnya itulah, di Indonesia ini berbicara atau melakukan apapun boleh kecuali satu, mengatakan tidak boleh. Bisa kita bayangkan apa yang terjadi disetiap persoalan yang berkembang di dunia maya. Kasus Covid-19 memberi pelajaran berharga kepada kita semua, perlunya kedewasaan dalam mencari informasi yang benar. Serta rujukan yang dapat memandu kita, sehingga kita terbawa kepada gederang orang yang sengaja ingin menyesatkan.

Mengutip tulisan Dr. Melati Arum Satiti, SpA. MSc (dengan menambah beberapa item yang perlu) perlunya kita mengenali sumber informasi kesehatan, Agar kita mendapat informasi yang benar ada beberapa langkah, Pertama, kenali latar belakang penulis atau narasumber. Sudah semestinya kita sebelum membaca sebuah informasi di duania maya, kenali betul penulisnya. Berbeda dengan buku, kita akan dapat mengidentifikasi penulis melalui riwayat singkat penulis di sampul belakang. Kalau itu penulis belum dikenal. Di dunia maya siapapun bisa mengunggah. Malahan bisa menyamarkannya. Atau bahkan yang jahat, sengaja memalsukannya.

Tentu kalau itu untuk dunia kesehatan, tentu pakar di bidang kesehatan yang tentunya menjadi rujukan utamanya. Kalau kasus Covid-19 tentunya dokter spesialisasi di bidang ini, misal dokter spesialis paru-paru. Atau malahan konsultan di bidang ini. Bukan berarti tenaga kesehatan yang lain tidak, tapi dengan spesialisasi tertentu akan lebih sangat menguasai bidang tersebut.

Kedua, identifikasi Portal informasi. Saat ini banyak sekali portal informasi di dunia maya yang menawarkan beragam informasi termasuk kesehatan. Tentu menurut hemat saya, World Health Organization (WHO) dan Center of Disease Control and Prevention (CDC) menjadi referensi masalah kesehatan di dunia yang reputasinya tidak diragukan. Informasi di kedua website tersebut ditulis menggunakan bahasa yang mudah dimengerti orang awam sekalipun.

Kalau ingin yang berbahasa Indonesia tentu bisa melalui portal Kementerian Kesehatan. Atau organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dll. Namun sayangnya kita biasanya enggan mencari informasi. Atau  dengan cara cross check untuk mencari kebenaran sekalipun dari portal yang terpercaya tersebut. Sudah bukan jamannya lagi pemerintah menyembunyikan informasi dalam era seperti sekarang ini. Oleh sebab itu kecurigaan itu tentu tidak lagi pada tempatnya.

Ketiga, telaah informasi. Menelaah atau melakukan analisis merupakan bagian terpenting dari proses pencarian informasi kesehatan yang valid di era digital saat ini. Oleh sebab itu, sudah semestinya setiap membaca informasi tidak langsung panik karenanya.  Contoh yang paling sederhana, ketika berbagai media memberikan informasi jumlah kematian akibat Covid-19 yang mencapai sekitar 3500 kasus. Jumlah tersebut memang tidak sedikit. Namun, perlu diketahui 3500 kasus kematian dari seluruh dunia. Malahan kalau dilakukan penghitungan, persentase jumlah kasus kematian dari total kasus Covid-19 sebenarnya hanya sebesar 3,4%. Dan 90% berada di China.

Lebih tinggi angka kematian akibat SARS da MERS. Angka kematian akibat SARS pada 2003 dilaporkan sebesar 11%. Dan angka kematian akibat MERS di tahun 2012 dilaporkan sebesar 34,4%. Malahan Ibu Gubernur menyampaikan, kita tidak boleh terlena karena  Covid-19. Ada juga yang mengancam kita saat ini yaitu demam berdarah (DB) yang perlu perhatian kita juga.

Covid-19 sudah menelan korban. Kita harus waspada. Jawabannya tentu ya. Namun kita tidak boleh panik. Tetap berpegang cara hidup sehat seperti anjuran Kemenkes. Mudah-mudahan tulisan ini mengingatkan kita agar kita bertindak cerdas dalam menyikapinya.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close