Ngawi

Kontes Ayam Lidi di Desa Kersoharjo-Ngawi, Adu Tarung tanpa Perlu Menyakiti

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Tarung puluhan ayam bangkok ini tidak biasa. Bukan saling tubruk, melainkan hanya duduk diam di atas meja. Pemenangnya tidak diukur dari kekuatan, tapi keindahan. Itulah kontes ayam lidi di Desa Kersoharjo, Geneng, Ngawi. Kontes ini adalah melawan paradigma ayam petarung.

Binatang berkokok itu dapat diadu tanpa perlu menyakiti. ‘’Karena ayam petarung itu melawan hukum. Kontes ini diharapkan dapat menghilangkan kebiasaan ayam aduan tarung,’’ kata Puji Endra Prasetya, salah seorang peserta kontes, Selasa (12/10).

Penamaan kontes ayam lidi merujuk pada ekor ayam bangkok yang dapat mengembang. Bentuknya mirip daun kelapa yang biasanya dipakai untuk membuat sapu lidi. Akan tetapi, kategori penilaian yang sesungguhnya cukup beragam. Mulai paruh, kepala, jengger, hingga warna bulu. ‘’Ayam bangkok ini punya ciri khas, ada nilai estetiknya. Bukan hanya untuk bertarung atau dikonsumsi,’’ terang Bayu Anindita, panitia pelaksana kontes.

Kontes diikuti puluhan peserta dari sejumlah daerah. Bukan hanya Ngawi, melainkan juga dari Madiun, Magetan, Ponorogo, dan Bojonegoro. Pemenangnya mendapatkan trofi, uang, dan sertifikat. Ya, belakangan warga Ngawi dan sekitarnya gandrung memelihara ayam lidi.

Kontes sebagai wadah menyalurkan hobi tersebut. Apalagi, dari acara itu dapat melambungkan harga jual ayam mencapai jutaan rupiah. Ayam bangkok berusia enam bulan, misalnya. Ada yang menawar Rp 2 juta per ekor. ‘’Kalau ayam pemenang kontes harganya puluhan juta rupiah,’’ ungkap Bayu. (sae/c1/cor/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button